Rss

Tampilkan postingan dengan label Top Keeper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Top Keeper. Tampilkan semua postingan

12 September 2014

Richard Kingson

Richard Paul Franck Kingson ,lahir di Accra, Ghana, 13 Juni 1978, juga terkenal sebagai Faruk Gürsoy, adalah seorang pemain sepak bola Ghana yang bermain di posisi penjaga gawang. Dia terakhir kali membela Blackpool F.C. 

Dia juga tergabung dalam Ghana.

Gianluigi Buffon

Gianluigi "Gigi" Buffon ,lahir di Carrara, 28 Januari 1978 merupakan seorang pemain sepak bola profesional dari Italia. Ia saat ini bergabung di klub asal Turin, Juventus FC. Buffon juga merupakan kiper utama di tim nasional sepak bola Italia. Ia dibeli Juventus dari Parma pada tahun 2001. Prestasi terbaiknya adalah saat mengantar Italia menjuarai Piala Dunia 2006. Sampai saat ini, Buffon kerap disebut sebagai salah satu kiper terbaik di dunia.Penghargaan yang ia dapatkan salah satunya adalah gelar Kiper Terbaik Serie A yang berhasil ia raih sebanyak delapan kali.

Terlahir dari keluarga berlatar belakang olahraga dengan ibu Maria Stella sebagai atlet lempar cakram dan ayahnya Adriano Buffon sebagai atlet angkat besi, Buffon merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adik perempuannya yaitu Veronica dan Guendalina juga saat ini berprofesi sebagai atlet bola voli. Paman Buffon sendiri yaitu Angelo Masocco juga berprofesi sebagai atlet bola basket. Salah satu kiper legendaris Italia yaitu Lorenzo Buffon juga masih ada hubungan darah dengan kakek Gianluigi Buffon.

Saat ini Buffon bertunangan dengan model Ceko Alena Šeredová. Pasangan ini telah memiliki dua anak yaitu Louis Thomas (lahir 28 December 2007) dan David Lee (lahir 31 October 2009). Anak pertama Buffon dinamai "Thomas" dengan mengambil basis dari Thomas Nkono, yang merupakan kiper idola Buffon sewaktu masih kecil. Buffon berteman baik dengan beberapa pesepakbola diantaranya Alessandro Del Piero dan Pavel Nedved.

Buffon memulai karirnya melalui akademi sepak bola muda di klub AC Parma pada tahun 1991 di usia 15 tahun. Ia kemudian lulus dari tim junior pada tahun 1995 pada usia 19 tahun. Buffon kemudian memulai debut Serie A saat Parma melawan AC Milan pada 19 November 1995, dan dalam pertandingan ini Parma berhasil menahan imbang Milan dengan skor 0-0. Buffon lantas diberikan kesempatan bermain lagi selama delapan kali, dan baru resmi menjadi kiper utama Parma pada 1996, ketika saat itu ia ditangani oleh pelatih kiper legendaris Louie P. Di Parma sendiri, Buffon kemudian melahap lebih dari 200 pertandingan, dan pada musim keempatnya di 1998-1999, ia berhasil mengantar Parma menjadi juara Piala UEFA serta Coppa Italia.

Musim 2000-01 merupakan musim terakhir Buffon di Parma. Saat itu gosip yang berkembang ia akan diambil oleh tim-tim besar dari luar Italia. Di Italia sendiri ia juga sempat digosipkan akan dibeli oleh juara bertahan AS Roma. Namun kabar ini kemudian dibantah oleh pihak Roma dan mereka kemudian membeli Ivan Pelizzoli dari Atalanta. Buffon sendiri santai menanggapi gosip ini, dan ia berujar bahwa:

“     Saya rasa, Roma bukanlah tempat yang baik bagi saya untuk mengembangkan karier. Mereka memang juara tapi keuangan mereka tipis sehingga kemungkinan akan membuat saya berjuang sendirian sebagai salah satu bintang di sana bersama Francesco Totti.     ”

Klub asal Turin, Juventus kemudian bergerak cepat dengan membelinya satu paket bersama Lilian Thuram. Harga transfer Buffon sendiri saat itu adalah £32,6 juta yang sekaligus menobatkannya sebagai kiper termahal dunia. Sebagai bagian dari transfernya, Juventus kemudian memberikan Jonathan Bachini untuk Parma.

Gianluigi Buffon menjadi salah satu pemain yang didatangkan Juventus di musim 2001-02 bersama rekan setimnya di Parma yaitu Lilian Thuram dan gelandang SS Lazio Pavel Nedved. Juventus sendiri berhasil mendapatkan uang segar usai menjual bintang mereka Zinedine Zidane ke Real Madrid. Juventus juga kemudian mendatangkan Marcello Lippi kembali sebagai pelatih usai memecat Carlo Ancelotti yang dinilai gagal mengantar Juve juara Serie A sekalipun dibekali dengan pemain-pemain bintang.

Pada musim pertamanya dengan Juventus, Buffon menjadi kiper utama langganan starting eleven dimana ia tampil dalam 45 pertandingan resmi. Buffon lantas berhasil mengantar Juve juara Serie A melalui aksi heroik di pertandingan terakhir ketika klubnya berhasil menang dan di tempat lain Inter Milan yang tampil sebagai pemimpin klasemen sampai pekan ke-33 kalah. Kemudian di musim 2002-03, Buffon tampil dalam 47 pertandingan resmi dan sekali lagi mengantar Juventus menjuarai Serie A. Ia juga kemudian berhasil mengantar Juve menembus final Liga Champions yang digelar di Stadion Old Trafford, Inggris. Sayangnya Juve saat itu kalah dari rival senegaranya, AC Milan dalam adu penalti. Atas prestasinya tersebut, pada tahun 2003, Buffon kemudian dianugerahi penghargaan UEFA Most Valuable Player dan gelar sebagai Kiper Terbaik Dunia.

Musim 2003-04, Buffon tampil dalam 38 pertandingan, meskipun Juventus saat itu gagal menjuarai Serie A. Ia lantas mendapatkan penghargaan lain yaitu masuk dalam Daftar 125 Pesepakbola Aktif Terbaik versi legenda sepakbola Brasil, Pele. Penghargaan ini ia dapatkan pada awal tahun 2004. Kemudian di musim 2004-05, Buffon kembali tampil sebagai salah satu bintang yang mengantarkan Juventus juara Serie A dibawah asuhan Fabio Capello.

Agustus 2005, Buffon sempat mengalami kecelakaan saat menghadapi AC Milan dalam ajang pra musim Luigi Berlusconi Trophy. Ia bertabrakan di lapangan dengan gelandang Milan, Kaka saat mengejar bola lepas dan kemudian divonis menderita cedera dislokasi bahu dan harus segera di operasi. Khawatir dianggap "perusak tim" oleh supporter Juventus, AC Milan kemudian berbaik hati meminjamkan kiper mereka yaitu Christian Abbiati sebagai pengganti sementara sampai operasi Buffon berhasil dan pulih. Buffon lantas kembali bermain bersama Juve pada November 2005, tetapi tak lama kemudian ia mengalami cedera kembali dan baru bisa tampil penuh di bulan Januari. Meskipun begitu, duet Abbiati dan Buffon yang tampil bergantian berhasil mengantar Juventus menjuarai Serie A untuk ke 29 kalinya sepanjang sejarah klub.

Pada tanggal 12 Mei 2006, Buffon, bersama dengan tim Juventus dan sesama kiper Antonio Chimenti dan beberapa pemain lainnya divonus terlibat dalam sebuah judi ilegal dalam pertandingan antara Juventus melawan Parma. Ia lantas membela diri di hadapan pengadilan dan ia mengakui bahwa ia sering terlibat dalam perjudian, tetapi tidak pernah sekalipun ia berjudi atas nama tim (dalam hal ini Juventus). Melihat pengakuannya soal judi, spekulasi mulai merebak di Italia bahwa bisa saja Buffon tergusur dari posisinya sebagai kiper utama timnas Italia di Piala Dunia 2006, namun kemudian gosip itu pudar dan pada 15 Mei diumumkan secara resmi bahwa Buffon akan menjadi kiper utama timnas Italia di PD 2006. Selanjutnya seluruh pemain Juventus kemudian dibebaskan dari tuduhan judi ilegal pada 27 Juni 2007 atau setahun usai kasus ini dipersidangkan.

Usai diumumkan sebagai kiper di PD 2006, Buffon kemudian menghadapi masalah baru. Klubnya yaitu Juventus didakwa telah terlibat dalam skandal Calciopoli, dan sebagai akibatnya, Juventus terpaksa melepas dua gelar Serie A di 2004-05 dan 2005-06 serta terkena hukuman turun ke Serie B.Desas-desus lain kemudian muncul bahwa Buffon akan dilepas oleh Juventus untuk menghemat biaya. Beberapa klub yang tertarik saat itu diantaranya adalah Manchester United, AC Milan, dan Real Madrid. Namun kemudian manajemen Juventus memutuskan untuk tidak menjual Buffon, dan Buffon sendiri menerima hukuman yang diberikan pada Juventus apa adanya. Ia lantas menambahkan bahwa Serie B adalah sebuah divisi yang belum pernah Juventus menangi, dan akan sangat menyenangkan jika Juve bisa menjuarainya.

April 2007, wakil presiden Milan Adriano Galliani menyatakan bahwa Buffon telah setuju untuk dikontrak Milan menggantikan Dida. Hal ini kemudian dibantah oleh Buffon, yang menyatakan bahwa ia tidak pernah dihubungi oleh pihak Milan.

Usai Juventus memenangkan Serie B dan kembali ke Serie A pada musim 2007-08, Buffon kemudian setuju untuk memperpanjang kontrak dengan klubnya tersebut sampai musim 2012. Buffon kembali menjadi bintang Juve saat mengantar klub tersebut menempati peringkat tiga Serie A 2007-08 dan mendapat jatah kualifikasi Liga Champions pada tahun kembalinya Juve ke Serie A. Musim 2008-09, Buffon kemudian didera beberapa cedera, diantaranya cedera punggung dan cedera otot. Dari bulan September 2008 sampai Januari 2009, kiper pengganti Buffon yaitu Alexander Manninger secara meyakinkan tampil luar biasa dan mendapat banyak pujian. Manninger kemudian lebih banyak dipakai oleh pelatih Claudio Ranieri ketimbang Buffon sekalipun Buffon telah pulih 100%. Buffon juga sempat kesal dan sedih saat ia digantikan oleh Manninger saat melawan Lecce dan Atalanta. Rumor berkembang Buffon mulai muak dan bosan dengan Juventus. Buffon pun mengakui bahwa ia sempat marah dan kesal, tetapi baginya tidak ada jalan lain ketimbang menerima keputusan pelatih. Buffon pun akhirnya memilih untuk kembali memperpanjang kontrak sampai akhir 2013, dan mengisyaratkan bahwa dirinya ingin pensiun bersama Juventus.

Musim 2011-12, Buffon tampil luar biasa sepanjang musim lewat beberapa penyelamatan gemilang. Diantaranya saat menghadang tendangan penalti dari Francesco Totti dan yang kontroversial yaitu menghalau sundulan Muntari.Buffon kembali berhasil mengantarkan Juventus meraih Scudetto di bawah asuhan pelatih Antonio Conte.

Gianluigi Buffon memulai debutnya untuk tim nasional sepak bola Italia pada 29 Oktober 1997 dalam usia 19 tahun sebagai pengganti Gianluca Pagliuca yang cedera saat akan menghadapi play off Piala Dunia 1998 melawan tim nasional sepak bola Rusia. Ia kemudian masuk dalam 23 pemain yang bermain di Piala Dunia 1998 tetapi ia tidak mendapatkan kesempatan bermain sekalipun. Buffon juga termasuk anggota tim Italia dalam Olimpiade Atlanta 1996, Piala Dunia 2002, dan Euro 2004. Buffon juga sebenarnya menjadi pilihan utama Dino Zoff dalam Piala Eropa 2000, tetapi hanya delapan hari menjelang turnamen di mulai tangannya patah dan ia digantikan oleh Francesco Toldo.

Selama putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman, Buffon tampil dalam form yang luar biasa karena ia hanya kebobolan dua gol dan mencatat lima kali clean sheet. Catatan lain Buffon di PD 2006 adalah ia tidak kebobolan selama 453 menit. Dua gol yang bersarang ke gawang Buffon adalah saat terjadinya gol bunuh diri Cristian Zaccardo saat melawan tim nasional sepak bola Amerika Serikat dan gol penalti di final dari Zinedine Zidane (tim nasional sepak bola Perancis). Buffon juga menjadi pahlawan dalam pertandingan final PD 2006 tepatnya ketika berlangsungnya adu penalti usai Perancis menahan imbang Italia 1-1. Buffon berhasil menahan tendangan David Trezeguet dan dengan penalti dari Fabio Grosso, akhirnya Italia berhasil menjadi juara dunia 2006. Dari prestasinya tersebut, Buffon kemudian mendapat anugerah Penghargaan Lev Yashin karena tampil luar biasa selama tahun 2005-2006.

Pada Euro 2008, Gianluigi Buffon mendapatkan kesempatan tampil sebagai kapten timnas usai Fabio Cannavaro mundur dari turnamen akibat cedera. Di pertandingan penyisihan grup melawan tim nasional sepak bola Rumania pada 13 Juni, Buffon berhasil menyelamatkan tendangan penalti dari Adrian Mutu dan pertandingan berakhir dengan skor 1-1. Buffon lantas tampil luar biasa saat melawan Perancis di pertandingan terakhir grup, namun sayangnya penampilan luar biasa Buffon tersebut harus berakhir ketika melawan tim nasional sepak bola Spanyol di perempat final 9 hari kemudian, karena Italia dipaksa menyerah 4-2 lewat adu penalti, dan Buffon hanya bisa menangkis satu tendangan penalti dari Spanyol.

14 Juni 2010 di Piala Dunia 2010, Buffon diganti di babak pertama usai Italia bermain imbang dengan tim nasional sepak bola Paraguay di Grup F.Alasan digantinya Buffon adalah karena cedera urat syarafnya kambuh dan kemudian sampai Italia tereliminasi dari PD 2010, Buffon tidak pernah dimainkan lagi.

Setelah pensiunnya Fabio Cannavaro dari Timnas, Buffon menjadi kapten (sepak bola) baru tim nasional. Pada tanggal 9 Februari 2011, setelah pulih dari cedera punggung, Buffon memainkan pertandingan pertamanya sebagai kapten resmi di pertandingan persahabatan melawan Jerman yang digelar di Dortmund.

Pada Euro 2012 Buffon bertindak sebagai kapten selama keseluruhan turnamen. Dia terus tanpa kebobolan, ketika melawan Irlandia di pertandingan ketiga babak grup, dan melawan Inggris, menyelamatkan penalti penting dari Ashley Cole dalam adu penalti di perempatfinal. Pada laga semifinal melawan Jerman, Buffon membuat beberapa penyelamatan penting, hanya dikalahkan dengan hukuman penalti oleh Mesut Özil di menit 92. Italia memenangkan pertandingan 2-1 dan melaju ke Final melawan Juara bertahan Spanyol, Di final Spanyol mengalahkan Italia 4-0.

Gianluigi Buffon memiliki sebuah usaha restoran yang terletak di kota Pistoia dan sebuah sauna yang bernama "La Romanina" di Ronchi (MS).

Buffon juga sering berolahraga bersepeda bersama tunangannya. Ketika musim Serie A sedang libur, Buffon bersama Alena Šeredová sering menghabiskan waktu mengunjungi dan mengelilingi beberapa kota di Italia dengan bersepeda.

Buffon juga menjadi bintang iklan dari perusahaan poker online bernama PokerStars, diperkirakan setiap tahunnya Buffon menerima keuntungan sebesar 1 juta Euro dari kontrak yang pertama kali ia tandatangani pada tahun 2009. Sebelumnya bintang AS Roma, Francesco Totti juga sempat menjadi bintang iklan promosional dari situs permainan poker online ini pada tahun 2001.

07 September 2014

Mark Bosnich

Mark Bosnich, yang lahir 13 Januari 1972 adalah mantan kiper dan olahraga cendekiawan Australia. Ia bermain di Inggris untuk klub Liga Premier Aston Villa, Manchester United dan Chelsea. Dia juga bermain di Australia untuk Sydney Serikat, Central Coast Mariners dan Sydney Olympic, serta mewakili Australia 17 kali selama karirnya.

Bosnich lahir dan dibesarkan di Liverpool, New South Wales dan Fairfield, Sydney dan dihadiri Liverpool Boys High School. [Rujukan?] Bosnich bermain untuk tim muda Sydney Kroasia sebelum pindah ke Inggris. Pada tahun 1989, pada usia 17, ia pindah ke Inggris untuk bergabung dengan Manchester United secara non-kontrak dan melakukan debut untuk mereka di fixture Divisi Pertama melawan Wimbledon pada 30 April 1990.

Dia hanya bermain dua pertandingan lebih untuk Manchester United sebelum pendaftaran dengan klub dibatalkan pada 30 Juni 1991 Dia kemudian kembali ke Sydney Kroasia singkat di musim 1991-92. Ia kembali ke Inggris penandatanganan untuk Aston Villa dengan status bebas transfer pada 28 Februari 1992.

Bosnich tidak mengklaim tempat reguler di tim pertama Aston Villa sampai musim 1993-94. Di Piala Champions semi-final melawan Tranmere Rovers musim itu, ia secara dramatis berhenti tiga tembakan dalam adu penalti. Dia kemudian mengakui bahwa ia harus telah dikirim sebelum perpanjangan waktu mulai untuk menjatuhkan Tranmere John Aldridge. Villa akan pergi untuk memenangkan final, melawan mantan klubnya, Manchester United. 1994-1995 adalah musim penuh pertama Bosnich sebagai kiper pilihan pertama Villa, tapi itu musim sangat mengecewakan bagi klub karena mereka sempit dihindari degradasi.

Bosnich adalah salah satu dari beberapa pemain yang akan dipertahankan oleh manajer baru Brian Sedikit berikut pemecatan Atkinson pada bulan November 1994, karena sebagian besar tim Atkinson dijual off untuk membuat jalan bagi sisi baru. 1995-1996 mungkin adalah musim terbaik dalam karir Bosnich ini. Dia sekarang secara luas diakui sebagai salah satu kiper terbaik di Liga Premier, ketika dia membantu Villa di urutan keempat di liga dan memenangi final Piala Liga Sepak Bola di Wembley dengan kemenangan 3-0 atas Leeds United.

Pada tahun 1996, Bosnich didenda £ 1.000 dan dikecam oleh FA setelah ia dinyatakan bersalah kesalahan dengan mengganggu penggemar Tottenham Hotspur (klub dengan Yahudi pengikut) dengan hormat Nazi. Bosnich menghabiskan tiga musim lagi di Villa Park sebelum kontraknya berakhir dan ia bergabung dengan Manchester United dengan status bebas transfer. Ia telah bermain 227 kali dalam tujuh-dan-a-setengah tahun dengan Midlanders.

Bosnich ditandatangani untuk Manchester United di musim 1999 dekat sebagai pengganti Peter Schmeichel. Selama musim ia mengambil medali gelar Liga Premier saat United merebut gelar juara dengan margin 18 poin. Dia juga memainkan peran kunci dalam Manchester United menjadi tim Inggris pertama yang memenangkan Toyota World Club Championship dalam menjaga clean sheet melawan Palmeiras dari Brasil, di Tokyo, selama Piala Intercontinental 1999.

Dia memiliki tugas singkat sebagai kiper pilihan pertama untuk Manchester United karena mereka menandatangani Piala Dunia kiper memenangkan Prancis, Fabien Barthez, di tahun 2000 musim dekat. Segera setelah Bosnich menemukan dirinya sebagai kiper pilihan ketiga. Baru ditunjuk sebagai manajer Celtic Martin O'Neill membuat tawaran untuk pinjaman Bosnich untuk musim 2000-01, namun ia memutuskan untuk bergerak dan memutuskan bahwa ia akan mencoba dan mendapatkan kembali tempatnya di tim utama Manchester United. Dia juga telah jatuh dari nikmat dengan tim nasional, kehilangan tempat untuk Mark Schwarzer. Dengan harapan akan kembalinya tim pertama memudar Bosnich dikaitkan dengan Chelsea.

Dalam otobiografinya Alex Ferguson dirilis pada tahun 2013, ia disebut Bosnich "mengerikan profesional".

Bosnich pernah memainkan pertandingan pertama tim untuk United setelah kedatangan Fabien Barthez, dan pada tanggal 18 Januari 2001 ia dikontrak Chelsea dengan status bebas transfer. Masalah dengan kebugaran dan cedera berarti debutnya tidak terjadi sampai musim berikutnya. Bosnich berpenghasilan A $ 130.000 per minggu (sekitar £ 45.500 per minggu) pada karir sepak Chelsea.His mencapai batu-bawah pada bulan September 2002 ketika ia gagal dalam tes doping dan kemudian dipecat oleh Chelsea dan dilarang dari sepak bola selama sembilan bulan .

Suspensi batal pindah ke Bolton Wanderers pada bursa transfer musim dingin yang baru diperkenalkan. Bosnich tertarik pada gagasan pindah ke Stadion Reebok dan agen pemain mengakui bahwa dialog telah terjadi tetapi Sam Allardyce tetap malu-malu tentang minatnya. Pada musim gugur 2004, ia menolak kesempatan untuk kembali ke sepak bola dengan Liga Satu sisi, Walsall, yang kemudian dikelola oleh Paul Merson, yang telah bermain bersama Bosnich di akhir musim di Aston Villa. Kemudian spekulasi menghubungkan dia dengan kembali ke sepak bola dengan Grays sisi Konferensi Athletic.

Bosnich mengembangkan kecanduan kokain $ 5.000 per minggu dan menjadi pertapa. Bosnich mengambil hingga 10 g (0.35 oz) kokain sehari. Pada satu tahap, ia hampir menembak ayahnya dengan senapan angin, berpikir itu adalah penyusup di rumahnya. Ayahnya meyakinkannya untuk berhenti obat. Pada awal tahun 2007, mantan pemain Chelsea dan pelatih kiper QPR Ed de Goey memberinya inspirasi untuk keluar dari pensiun. Oleh Juli 2007, Bosnich mulai pelatihan di tempat latihan Queens Park Rangers 'dalam upaya untuk awalnya mendapatkan cocok, dengan pandangan untuk bermain secara profesional lagi. Selama musim panas ia kehilangan 15 kg (33 lb) dan mengklaim telah kembali sebagian besar refleksnya. Pada bulan September ia terus kebobolan dalam gawang selama pintu belakang ditutup persahabatan melawan Barnet, yang QPR menang 2-0.

Bosnich kembali ke Australia pada tahun 2008 setelah bertahun-tahun tinggal di London.Bosnich dikonfirmasi untuk menjadi kiper awal untuk Central Coast Mariners untuk pra-musim Piala permainan mereka melawan Sydney FC pada tanggal 27 Juli 2008 [14] Bosnich bertahan tanpa kebobolan termasuk menyimpan penalti oleh Sydney FC Steve Corica sebelum diganti di menit ke-80 untuk tepuk tangan meriah oleh kedua kelompok pendukung. Pada tanggal 19 Agustus 2008, Bosnich menandatangani tujuh minggu pemain tamu kesepakatan dengan Mariners.

Bosnich membuat debut A-League dengan Central Coast Mariners pada tanggal 31 Agustus 2008 di 4-2 jauh menang melawan Queensland Roar di Stadion Suncorp di Brisbane. Setelah Mariners kiper pilihan pertama Danny Vukovic telah melayani suspensi nya, Bosnich tidak bermain lagi untuk Mariners. Pada tanggal 31 Mei 2009, diumumkan bahwa Bosnich telah menandatangani bermain untuk Sydney Olympic untuk sisa musim NSW Premier League.

Bosnich mengalami cedera hamstring dan ia mengakhiri karirnya bermain untuk fokus pada komitmen televisinya. Pada tanggal 22 Oktober 2010, itu menegaskan Bosnich sementara akan bergabung dengan North Queensland Fury sebagai pelatih sementara untuk pertandingan melawan Newcastle Jets, dengan tidak adanya Franz Straka dan Stuart McLaren, yang telah dilarang dari touchline untuk dua games.However, Bosnich tidak diizinkan oleh FFA karena dia tidak memiliki lisensi kepelatihan.

Penampilan pertamanya bersama tim nasional datang pada tahun 1990 melawan Uni Soviet tur sisi klub Torpedo, diikuti oleh sejumlah penampilan lebih lanjut dalam 'tidak resmi' Socceroos cocok dalam beberapa tahun ke depan. Penampilan internasional penuh pertamanya datang pada tahun 1993 melawan Selandia Baru dalam pertandingan kualifikasi untuk Piala Dunia 1994. Bosnich juga muncul untuk Socceroos di Olimpiade Barcelona 1992 dan Piala Konfederasi FIFA 1997.

Meskipun penampilan internasional dengan Socceroos yang jarang, mereka adalah kesempatan mengesankan. Menjaga untuk Australia dalam pertandingan tandang kualifikasi rumah-dan-pergi dengan Iran dalam usaha yang gagal untuk lolos ke Piala Dunia 1998, Australia kehilangan gol tandang dalam apa Bosnich digambarkan sebagai "momen terendah di sepak bola Australia". Bosnich juga mencetak penalti untuk tim nasional dalam kemenangan 13-0 atas Kepulauan Solomon. Dia mengakui bahwa ia berharap seleksi Australia untuk menebus waktu ia dijauhi dalam mendukung komitmen klubnya. "Jika aku pernah mendapatkan kesempatan untuk bermain untuk Australia lagi, aku tidak akan pernah membuat kesalahan dengan mengatakan 'tidak'."

Bosnich menikah untuk pertama kalinya pada tahun 1992, untuk seorang wanita Inggris bernama Lisa Hall. Pernikahan berlangsung di Sydney, New South Wales, pada bulan Februari. Ada rumor bahwa ia menikah Balai untuk dapat kembali ke Inggris, setelah masalah dengan visa kerjanya. Setelah dua tahun menikah, pejabat Home Office yang puas itu bukan pernikahan kenyamanan dan Bosnich diizinkan untuk tetap tanpa batas waktu di Inggris. Namun, pernikahan itu berakhir hanya tiga bulan kemudian. Menurut dia, "Kami berada di cinta tapi pernikahan kami hanya tidak berhasil." Pernikahan keduanya adalah untuk Sarah Jarrett, pada tahun 1999 Ia hampir gagal mencapai altar, hanya memiliki telah dirilis pada jam jaminan sebelum pernikahan setelah insiden di sebuah klub strip selama perayaan rusa malamnya.

Pernikahan berlangsung hanya 14 bulan. Jarrett sedang hamil pada saat perceraian, tapi dia kehilangan bayi segera setelah itu, pada bulan ketiga kehamilan. Bosnich mengakui bahwa banyak masalah kokain nya adalah karena hubungannya dengan model Inggris Sophie Anderton, mengklaim bahwa untuk setiap baris dia, ia harus memiliki satu juga. Dia tidak menyesali tindakannya Namun, kredit mereka dengan mampu membantu orang yang membutuhkan. Kecanduannya memburuk dan ia kemudian mengatakan, "Ada tahap di mana aku bangun untuk 10 gram per hari ketika aku benar-benar turun dalam kesedihan." Pada tanggal 16 Juli 2008, ia dibuat bangkrut di Pengadilan Tinggi di London pada permohonan kreditur.

Bosnich memberi komentar khusus untuk Socceroos 'ramah dengan Nigeria pada tanggal 17 November bersama Simon Hill pada Australia Fox Sports dan kemudian di SBS' cakupan dari final Piala FA 2008. Bosnich sekarang menjadi analis sepak bola dan komentator untuk Fox Sports program sepak bola. Dia juga bekerja sebagai agen pemain. Bosnich melatih di Kostya Tszyu Tinju Academy di Rockdale. Bosnich tinggal bersama orang tuanya di Fairfield ketika ia kembali ke Australia dan sekarang tinggal di Woolloomooloo dengan pasangannya Sarah Jones.

Mark Schwarzer

Mark Schwarzer OAM, lahir 6 Oktober 1972 adalah pemain sepak bola profesional Australia yang bermain untuk klub Inggris Chelsea sebagai seorang penjaga gawang. Ia mewakili Australia di tingkat internasional 1993-2013, dan terpilih untuk kedua 2006 dan 2010 Piala Dunia.

Setelah berkembang melalui barisan pemuda dari Colo Cougars, Penrith, Blacktown Asosiasi dan Marconi Stallions, ia berbalik profesional untuk National Soccer League sisi Marconi Stallions pada tahun 1990 Setelah membuat 58 penampilan untuk klub, ia pindah ke klub Bundesliga Dynamo Dresden pada tahun 1994, muncul dua kali, dan kemudian ke Bundesliga 1 FC Kaiserslautern pada tahun 1995, muncul empat kali. Schwarzer bergabung dengan klub lapis kedua kemudian Bradford City pada tahun 1996, dan membuat enam belas penampilan sebelum bergabung klub Liga Utama Middlesbrough pada bulan Februari 1997 Dia membuat 445 penampilan untuk Middlesbrough, tetapi memutuskan untuk meninggalkan klub Mei 2008 Dia kemudian beralih ke Premier League Fulham , dan membuat 218 penampilan untuk klub sampai ia pindah ke Chelsea pada tahun 2013 dia sekarang 8 di sepanjang masa Premier League penampilan meja, satu-satunya non-Briton sampai saat ini telah menyelesaikan lebih dari 500 penampilan Liga Premier dan juga pemain tertua yang bermain di tahap sistem gugur Liga Champions.

Setelah bermain untuk Australia di bawah-17 dan U-20 tingkat, Schwarzer membuat debut internasional penuh di Piala Dunia FIFA pertandingan kualifikasi melawan Kanada pada tahun 1993 Selama karir internasionalnya, ia memenangkan total 109 caps untuk negaranya . Dia menjadi pemain paling capped Australia ketika ia melampaui rekor penampilan Alex Tobin pada Januari 2011 Di November 2013, Schwarzer mengumumkan pengunduran dirinya dari sepak bola internasional.

Klub pertama Schwarzer adalah Colo Cougars di Richmond, New South Wales. Schwarzer telah dikenakan pasangan yang sama shin pads sejak ia memulai karir profesionalnya pada usia 19 dengan Marconi Stallions, di Liga Sepakbola Nasional. Dia meninggalkan klub berbasis di Sydney untuk bermain di Jerman dengan Dynamo Dresden dan FC Kaiserslautern. Dia kemudian melakukan perjalanan ke Inggris untuk bermain untuk Bradford City, di mana ia akhirnya bergabung dengan Middlesbrough pada bulan Februari 1997.

Schwarzer melakukan debut untuk Middlesbrough melawan Stockport County di Piala Liga semifinal. Ia bermain di final melawan Leicester City, hasil imbang 1-1, tapi cedera membuatnya absen dari replay, yang hilang Middlesbrough. Dia adalah bagian dari sisi, namun, yang mengalahkan Bolton Wanderers untuk memenangkan 2004 Final Piala Liga, memulihkan kesalahan di mana ia membiarkan tembakan lembut.

Dalam pertandingan terakhir musim 2004-05 melawan Manchester City, dia menyelamatkan penalti Robbie Fowler pada menit akhir untuk mempertahankan hasil imbang 1-1. Hasil imbang tersebut sudah cukup untuk menempatkan Middlesbrough di ketujuh dalam tabel liga akhir dan memastikan kualifikasi untuk Piala UEFA. Memiliki Fowler penalti tersebut, Manchester City akan lolos ke Piala UEFA dengan biaya Middlesbrough.

Schwarzer diberikan permintaan transfer oleh Middlesbrough akhir tahun 2005 dan berusaha untuk bergabung dengan klub baru, namun ia mengundurkan diri permintaannya pada 20 Januari 2006, dan bergabung kembali tim. Sebuah tulang pipi retak berkelanjutan melawan West Ham United, namun, tampak seperti itu telah memerintah Schwarzer keluar untuk sisa musim ini, tapi ia kembali ke final Piala UEFA melawan Sevilla, meskipun bermain dengan topeng pelindung. Ketika ia bermain dalam kemenangan 1-0 atas Middlesbrough Portsmouth pada 29 Desember 2007, ia menjadi Liga Premier terlama asing di satu klub mengalahkan rekor Dennis Bergkamp dari 315 pertandingan.

Kontrak Schwarzer dengan Middlesbrough berakhir pada bulan Juni 2008, dan meskipun ia ditawari kontrak baru, manajer Gareth Southgate harus merencanakan masa depan dengan kiper baru, karena pada tanggal 21 Mei 2008, Schwarzer menandatangani kontrak dua tahun di Fulham, mengakhiri hubungan 11 tahun dengan klub Teesside. Schwarzer mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan The World Game bahwa ia telah menerima tawaran dari Bayern Munich dan Juventus tapi menolak permintaan mereka karena mereka tidak bisa menjamin dirinya posisi sebagai nomor satu kiper.

Schwarzer membuat debut Fulham dalam kekalahan 2-1 untuk yang baru dipromosikan sisi Premier League Hull City, tapi ia ditindaklanjuti dengan menjaga clean sheet dalam pertandingan berikutnya dalam kemenangan 1-0 di kandang Arsenal dan bermain setiap menit dari 2008 -09 musim. Dia terus sepuluh lembar bersih selama musim 2008-09 di semua kompetisi.

Kontribusi Schwarzer adalah fenomenal sebagai penampilannya memimpin Fulham ke tertinggi finis ketujuh dan tempat di Eropa musim depan, perbaikan besar-besaran di Fulham 17 finis hanya satu musim sebelumnya. Kulit kepala terkenal termasuk menang atas Arsenal, Manchester United dan hasil imbang dengan Chelsea terutama karena banyak spektakuler menghemat dari Schwarzer. Ia menerima Fulham Player of the Year 2008-09 di tahun pertama di klub. Ia juga terpilih sebagai Premier League Player of the Month untuk bulan Februari 2010, di mana ia hanya kebobolan satu gol dalam dua timnya menang dan dua kali seri bulan itu, membuatnya pertama Australia untuk melakukannya.

Ia memainkan peran penting dalam Fulham mencapai Europa Liga Champions pada 2010, namun Schwarzer kehilangan final Eropa kedua dengan kekalahan sempit untuk Atlético Madrid dari Spanyol.

Setelah menampilkan mengesankan di musim 2009-10 Schwarzer tertangkap mata manajer Arsenal Arsene Wenger yang menyatakan bahwa Arsenal berada di pasar untuk kiper baru setelah melihat bentuk Manuel Almunia dan Lukasz Fabianski datang ke pertanyaan. Itu telah dilaporkan bahwa tawaran sekitar £ 2.000.000 Mei 2010 telah dibuat untuk Schwarzer dan tawaran kedua sekitar nilai yang sama telah dibuat pada bulan Agustus 2010, namun keduanya ditolak oleh Fulham.

Dilaporkan pada 11 Agustus 2010 bahwa Schwarzer telah menyerahkan permintaan transfer, paving jalan bagi kepindahannya ke Arsenal akan selesai, yang kemudian dikonfirmasi oleh Fulham manajer Mark Hughes yang juga menolak permintaannya. Pada tanggal 31 Agustus 2010, dilaporkan bahwa Arsenal telah mengajukan tawaran terakhir-parit untuk membawa Schwarzer ke Emirates Stadium sebelum bursa transfer ditutup, namun Fulham Manajer Mark Hughes membantah bahwa pendekatan apapun dibuat.

Schwarzer menandatangani perpanjangan kontrak dengan Fulham pada tanggal 18 Januari 2012, melakukan sendiri untuk klub sampai setidaknya musim panas 2013.

Schwarzer membuat hukuman injury time terkenal Hemat terhadap Mikel Arteta untuk membantu Fulham mendapatkan hasil imbang 3-3 melawan Arsenal.

Pada 5 Juni 2013, Schwarzer mengumumkan ia meninggalkan Fulham setelah kedatangan Maarten Stekelenburg. Dia berkata, "Aku sudah mendengar bahwa untuk sementara waktu," katanya kedatangan Stekelenburg. "Tidaklah mengherankan besar dan saya akan mencari klub lain."

Schwarzer adalah salah satu dari dua belas pemain yang dirilis oleh Fulham pada akhir musim 2012-13 Premier League.

Pada 9 Juli 2013, Schwarzer menandatangani kontrak satu tahun dengan Fulham West London saingan Chelsea dengan status bebas transfer. Dia telah dikutip mengatakan "Ini salah satu klub terbesar dan terbaik di dunia, dan itu suatu kehormatan untuk menandatangani untuk Chelsea. Saya tidak mengambil banyak meyakinkan untuk datang ke sini".

Dia membuat debut kompetitif dalam 2-0 kemenangan tandang atas Swindon Town di Piala Liga Sepak Bola 2013-14. Dalam penampilan kedua Schwarzer di kemeja Chelsea, ia terus lembar lain bersih, seperti Chelsea tersingkir Arsenal dari Piala Liga dengan kemenangan 2-0 pada tanggal 29 Oktober.

Pada tanggal 11 Desember, Schwarzer menjadi pemain tertua yang debut di Liga Champions, ketika ia terus clean sheet ketiga dalam tiga penampilan untuk Chelsea, dengan kemenangan 1-0 atas Steaua Bucuresti, hasil yang dikonfirmasi perkembangan Chelsea ke babak sistem gugur sebagai pertama di grup mereka.

Schwarzer menjadi pemain tertua yang mewakili Chelsea di Liga Premier ketika dia bermain melawan Sunderland pada 19 April 2014, berusia 41 tahun dan 195 hari tua. Ia menjadi pemain tertua yang pernah klub oleh beberapa margin, menyalip Graham Rix (37 tahun dan 203 hari). Pada tanggal 22 April, dia menggantikan cedera Petr Cech di babak pertama dari Liga Champions semi-final melawan Atletico Madrid, dan terus skor 0-0. Pada tanggal 27 April ia mulai melawan Liverpool di Anfield, permainan penting bagi Chelsea untuk tetap dalam perburuan gelar. Dia terus clean sheet dan membuat beberapa beredar menghemat untuk menyangkal Liverpool dari menyamakan, dengan Chelsea memenangkan pertandingan 2-0. Clean sheet melawan Liverpool adalah 150 Premier League clean sheet-nya, sebuah prestasi hanya dua kiper telah mencapai sejauh ini.

Schwarzer termasuk dalam daftar pemain yang dirilis oleh Chelsea pada akhir musim, tapi ia akhirnya menandatangani kontrak satu tahun dengan klub, pada 30 Juni 2014.

Schwarzer membuat debut internasional untuk Australia melawan Kanada di Edmonton di kualifikasi Piala Dunia 1994. Dia datang sebagai pengganti Milan Blagojevic setelah pilihan pertama Robert Zabica diusir 17 menit dalam pertandingan tersebut. Di leg kedua di Sydney, ia menutupi dirinya dalam kemuliaan ketika ia menyelamatkan dua penalti untuk mengirim Australia ke tahap akhir kualifikasi melawan Argentina. Schwarzer tidak bermain di pertandingan ini, dan Australia dikalahkan agregat 2-1.

Dia berperan penting dalam kualifikasi Australia untuk Piala Dunia FIFA 2006, di babak play-off melawan Uruguay. Setelah Uruguay memenangkan leg pertama 1-0 di Montevideo, Australia menang 1-0 di Sydney. Dalam adu penalti, Schwarzer menyelamatkan dua penalti untuk melihat Australia menang 4-2.

Pada Final Piala Dunia, ia memainkan dua pertandingan pertama dalam pertandingan grup Australia, mengakui gol kontroversial melawan Jepang dan dua gol melawan Brasil. Di pertandingan ketiga, ia digantikan oleh Željko Kalac, namun setelah kinerja mengecewakan Kalac itu, ia kembali ke babak 16 pertandingan melawan Italia. Meskipun ia memperkirakan arah tendangan penalti, ia tidak mampu menyelamatkan penalti dalam pertandingan, yang dicetak oleh Francesco Totti di injury time dan dikirim Australia dari Piala Dunia.

Setelah Piala Dunia 2006, ia bersumpah untuk kembali untuk Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan. Ia bermain di semua pertandingan Australia di Piala Asia 2007. Meskipun ia tampil mengagumkan melawan Oman di imbang 1-1, ia membuat kesalahan yang menyebabkan gol di 3-1 kerugian ke Irak dan tidak bisa menyamai kiper Jepang Yoshikatsu Kawaguchi selama adu penalti, yang melihat kecelakaan Socceroos dari persaingan di debut mereka di turnamen. Schwarzer mengatakan bahwa adu penalti di perempat final Piala Asia adalah adu penalti pertama dalam karirnya bahwa ia pernah hilang.

Schwarzer disimpan an-Shao Jiayi menit ke-89 penalti melawan China di Australia imbang 0-0 di kualifikasi Piala Dunia 2010 pada Maret 2008, melanjutkan rekornya menghentikan tendangan penalti. Dia menerima kartu kuning kedua dari turnamen melawan Qatar di Doha, di mana Australia adalah pemenang 3-1. Dia juga merindukan permainan leg kedua Australia melawan Cina di Sydney. Ia bermain setiap menit untuk Socceroos di babak kedua kualifikasi, hanya kebobolan satu gol, yang pada pertandingan terakhir melawan Jepang.

Schwarzer membuat beberapa penting menghemat untuk mengamankan Australia Piala Asia Kualifikasi 2-1 menang atas Oman di Muscat setelah kebobolan dari penalti menghemat melambung.

Dia kiper pilihan pertama negara itu untuk semua tiga pertandingan Tahap Group di Piala Dunia 2010 dalam kelompok yang terdiri dari Australia, Jerman, Ghana, dan Serbia. Pada pertandingan pertama, Australia hancur 4-0 oleh Jerman, namun mereka pulih dengan hasil imbang 1-1 melawan Ghana di pertandingan berikutnya. Dalam pertandingan final, Australia mengalahkan Serbia 2-1, sehingga urutan ketiga dalam grup dengan empat poin, hanya hilang kualifikasi untuk babak 16 selisih gol dengan Ghana.

Setelah turnamen, Schwarzer menyatakan minatnya dalam tampil di Piala Dunia FIFA 2014, yang pada waktu ia akan berusia 41 tahun. Namun, pada 5 November 2013, ia mengumumkan pengunduran dirinya dari sepak bola internasional.

30 Agustus 2014

Dida Top Kiper

Nelson de Jesus Silva, lahir 7 Oktober 1973, lebih dikenal hanya sebagai Dida adalah kiper sepak bola Brasil yang bermain untuk SC Internacional, sisi Brasil. Dia pertama kali menjadi terkenal di klub Brasil sepak bola pada 1990-an dengan EC Vitória, Cruzeiro EC dan SC Corinthians, di mana ia memperoleh reputasi sebagai spesialis penalti hemat. Namun, Dida mungkin terbaik untuk diingat sukses dan sering kacau sepuluh tahun ia bekerja dengan klub Serie A Italia AC Milan dari tahun 2000 sampai 2010 Selama masa jabatannya dengan Rossoneri, ia menjadi sama dikenal atas kesalahan serta gameplay yang sangat baik, dari error terkenal saat pertandingan Liga Champions melawan Leeds United pada bulan September 2000, untuk menderita penurunan panjang dalam bentuk setelah dipukul dengan suar dinyalakan di Liga Champions perempat final melawan crosstown saingan Inter Milan pada bulan April 2005, dan sedang mengetuk bahu oleh penggemar lawan saat pertandingan Oktober 2007 dengan Celtic.

Salah satu dari hanya dua kiper dalam sejarah Milan untuk membuat lebih dari 200 penampilan Serie A, Dida memenangkan Liga Champions dua kali pada tahun 2003 dan 2007, dengan mantan datang setelah ia menyelamatkan tiga penalti dalam tembak-menembak melawan Juventus FC Ia juga pemenang dua kali pertama FIFA Club World Cup, pemenang perdana FIFPro Kiper of the Year, dan calon lima kali dari IFFHS dunia penghargaan Kiper Terbaik. Pada tahun 2003, Dida menjadi kiper Brasil pertama yang terpilih untuk Ballon d'Or, dengan nominasi kedua di tahun 2005.

Di tingkat internasional, Dida meraih 91 caps di sebelas tahun untuk tim nasional Brasil, termasuk penampilan terbanyak dalam sejarah Piala Konfederasi FIFA (22). Dia terutama memecahkan penghalang warna dengan menjadi kiper Afro-Brasil pertama untuk memulai untuk Selecao sejak Moacyr Barbosa di Piala Dunia FIFA 1950 setelah debut internasional pada Juli 1995 Dida memenangkan Piala Dunia 2002 bersama Brasil tanpa bermain game, dan adalah starter pada tahun 2006, mengakui hanya dua kali dalam lima pertandingan. Dia pensiun dari bermain internasional setelah Brazil tersingkir di perempat final.

Meskipun ia lahir di Irara, Bahia, Dida dibesarkan di negara bagian yang lebih kecil dari Alagoas. Model peran sepakbola Nya kiper Valdir Peres dan Rinat Dasayev, yang ia tonton di televisi selama Piala Dunia 1982. Kipas angin Flamengo, ia membantu membentuk tim amatir bernama Flamenguinho ("Sedikit Flamengo") di tiga belas, yang terdiri dari anak-anak lain dari lingkungannya. Karir klub profesionalnya dimulai pada tahun 1990 dengan tim Alagoas Cruzeiro de Arapiraca (tidak harus bingung dengan Cruzeiro EC). Dua tahun kemudian, ia menandatangani kontrak dengan klub kota kelahirannya Vitória dan memenangkan kejuaraan negara bagian Bahia di musim pertamanya. Pada tahun 1993, Dida membuat 24 dimulai untuk Vitória setelah memenangkan U-21 FIFA World Youth Championship sebagai pilihan pertama Brasil.

Dida diakuisisi oleh Cruzeiro EC pada tahun 1994, di mana, dalam rentang lima musim, ia memenangkan empat gelar negara Minas Gerais, 1996 Copa do Brasil, dan 1997 Copa Libertadores, bersama dengan sepasang Placar Bola de Prata penghargaan sebagai kiper top di Campeonato Brasileiro Série A. Tapi dengan keberhasilan ini segera datang keinginan untuk ply perdagangan di Eropa, dan pada Januari 1999, ia memutuskan untuk meninggalkan Cruzeiro untuk sign dengan AC Milan.

Permintaan Dida untuk memilih keluar dari sisa kontraknya dengan Cruzeiro untuk sign dengan Milan menggebrak perselisihan dengan klub yang berlangsung selama lima bulan, di mana ia cocok untuk Swiss klub FC Lugano menjaga kebugaran tubuh permainan. Tapi ketika masalah ini akhirnya diselesaikan dan Dida secara resmi bergabung dengan Rossoneri, ia berada di posisi ketiga pada kedalaman grafik pelatih Alberto Zaccheroni di belakang Christian Abbiati dan Sebastiano Rossi, dan karena itu Milan Dida dipinjamkan ke SC Corinthians dalam upaya untuk mendapatkan dia beberapa waktu bermain reguler.

Reputasinya sebagai penghemat penalti pertama kali datang ke permukaan setelah ia menyelamatkan dua tendangan tempat - baik yang diambil oleh Rai - di Korintus 'kemenangan 3-2 atas rival intrastate São Paulo FC di 1999 Campeonato Brasileiro semifinal menghasilkan judul "Dida adalah Allah "dari publikasi olahraga Lance !. Dalam perdana FIFA World Club Championship (hari ini FIFA Club World Cup) tahun 2000, Dida disimpan penalti Nicolas Anelka di imbang 2-2 dengan Real Madrid, dan di final melawan Vasco da Gama, Corinthians meraih gelar dalam 4 -3 adu penalti setelah ditembak Edmundo membelalak.

Milan ingat Dida untuk musim 2000-01, dan ia disalip melewati Rossi ke starting eleven sejak Abbiati sedang pergi dengan Italia di Olimpiade 2000. Sebuah panggung grup menang 4-1 Liga Champions atas Beşiktaş pada 13 September 2000 menandai debut resminya untuk klub, tapi pada tanggal 19 September, di menit ke-89 melawan Leeds United pada diguyur hujan Elland Road, ia sengaja menjatuhkan tembakan Lee Bowyer ke gawang sendiri, menyebabkan Milan kehilangan pertandingan 1-0. Penjelasannya kemudian adalah bahwa karena bola licin dari hujan, ia berusaha untuk menyerap kekuatan tembakan kemudian menangkap memegang itu, tapi jatuh ke genangan air dan memantul ke dalam gawang. [9] Meskipun menjaga clean sheet di Milan menang 2-0 atas FC Barcelona satu minggu kemudian, ia segera benched berikut kembali Abbiati. Dia membuat nya pertama dan hanya Serie A mulai musim itu juga, kerugian 2-0 November ke Parma di mana Patrick Mboma mencetak dua gol.

Sementara itu, Dida berada di antara hampir selusin Serie A pemain yang terlibat dalam skandal yang melibatkan paspor Eropa penipuan. Pada Oktober 2000, dilaporkan bahwa ia telah mendaftarkan di Italia sebagai pemain Uni Eropa dengan paspor Portugis, yang ditemukan palsu setelah pemeriksaan rutin oleh Milan, yang kemudian segera kembali terdaftar dia sebagai pemain non-Uni Eropa. UEFA menolak untuk mengambil tindakan apapun dan malah menyerahkan kasus ini kepada FIGC, yang didenda Milan £ 314.000, dan dilarang Dida dari liga selama satu tahun, selain suspensi selama setahun FIFA-dipaksakan dari bermain tim nasional. Pada tanggal 3 April 2003, setelah penampilan pengadilan di Milan, ia diberi tujuh bulan hukuman percobaan. Milan Dida dikirim kembali ke Korintus untuk 2001-02 berikut tutup paspor, kemudian ingat dia untuk musim depan, yang ia mulai di bangku cadangan sampai tertatih-tatih Abbiati karena cedera pinggul pada babak kedua dari Liga Champions tahap kualifikasi pertandingan melawan FC Slovan Liberec pada tanggal 14 Agustus 2002 Dida mengambil tempat untuk babak kedua dan berbalik dalam kinerja yang solid yang akan menghasilkan kiper pilihan pertama baru bagi Milan.

Dida segera menulis namanya dalam sejarah Milan setelah final Liga Champions 2003 di Old Trafford melawan liga saingan Juventus, yang telah berakhir tanpa gol setelah perpanjangan waktu. Dia menyelamatkan penalti dari David Trezeguet, Marcelo Zalayeta, dan Paolo Montero seperti Milan memenangkan tembak-menembak 3-2, dan pujian berikutnya dituangkan dalam dari negara asalnya di samping media Italia; ia diberi label "Saint Dida" oleh pers Brasil, sementara Folha de São Paulo menyumbang dengan judul "Dida mendorong Milan ke puncak Eropa." Pada tahun 2003, ia menjadi kiper Brasil pertama yang dinominasikan untuk Ballon d'Or, yang dimenangkan oleh Juventus Pavel Nedved saingan.

Dida dinominasikan untuk Serie A Kiper of the Year setelah kebobolan hanya 20 gol dalam 32 penampilan selama musim 2003-04 Scudetto pemenang Milan. Meskipun Milan tersingkir di perempat final, satu puncak mereka 2003-04 Jumlah Liga Champions adalah saat pertandingan penyisihan grup melawan AFC Ajax pada 16 September 2003, di mana Dida diblokir der Vaart titik tembakan kosong jarak Rafael van dengan kurang dari menit tersisa di waktu tambahan untuk melestarikan kemenangan Milan 1-0.

Pada tanggal 12 April 2005, dengan Milan memimpin 1-0 di leg kedua perempat final derby Liga Champions melawan saingan Internazionale crosstown, babak kedua gol Esteban Cambiasso telah dibatalkan oleh wasit Markus Merk, karena fakta bahwa ia baru saja bersiul Inter maju Julio Cruz karena pelanggaran terhadap Dida di kotak enam yard. Botol dan berbagai puing-puing yang kemudian dilemparkan oleh ultras Inter ke lapangan, dan proyektil segera meningkat ke flare menyala. Sebagai Dida mencoba untuk menghapus botol dari area penalti untuk mengambil tendangan gawang, suar dilemparkan dari atas dek memukulnya di bahu kanannya, dan Merk menghentikan pertandingan di menit ke-74. Setelah penundaan tiga puluh menit di mana petugas pemadam kebakaran dipanggil untuk menghapus flare terbakar dari lapangan, pertandingan itu dimulai kembali. Dida, bagaimanapun, tidak mampu untuk melanjutkan, dan digantikan oleh Abbiati. Kurang dari satu menit kemudian, Merk permanen meninggalkan pertandingan setelah lebih flare dan puing-puing hujan turun. Pertandingan itu diberikan sebagai kemenangan 3-0, total agregat 5-0, ke Milan. Dida menderita memar dan luka bakar tingkat pertama untuk bahunya, namun tidak melewatkan waktu permainan, karena ia kembali antara posting untuk Milan Serie A pertandingan pada tanggal 17 April melawan Siena. Sementara itu, Inter didenda lebih dari € 200.000 - denda terbesar yang pernah dijatuhkan oleh UEFA - dan diperintahkan untuk bermain pulang empat 2005-06 Liga Champions pertama mereka pertandingan di balik pintu tertutup sebagai hukuman.

Bentuk Dida mulai menurun setelah itu, saat dia berjuang di semifinal melawan PSV Eindhoven dan di 2005 CL kerugian akhir ke Liverpool, di mana Milan meniup memimpin 3-0 pada babak pertama dalam rentang enam menit di awal babak kedua dan pertandingan berakhir 3-3 setelah perpanjangan waktu. Dida hanya mampu menyelamatkan penalti John Arne Riise sebagai Liverpool menang 3-2 di berikutnya tembak-menembak. Dia telah menetapkan rekor CL untuk berturut-turut seprai bersih dengan tujuh, yang dikalahkan oleh Arsenal Jens Lehmann (sepuluh) musim depan.

Patch Dida kasar berlanjut saat ia mampat melalui musim 2005-06 kesalahan-penuh, yang mengarah ke pelatih Brazil Carlos Alberto Parreira menyatakan bahwa posisi awal untuk Piala Dunia mendatang tidak aman. Meskipun perjalanan Milan untuk kembali ke 2006 Final Liga Champions jatuh pendek setelah 1-0 kerugian agregat semifinal ke Barcelona, seri yang dimulai kebangkitan wujudnya dengan berhenti melawan Ronaldinho, Samuel Eto'o dan Henrik Larsson selama kedua kaki .

Dida turun ke awal yang kuat pada 2006-07; setelah pemogokan oleh Lazio Stephen Makinwa dalam kemenangan 2-1 musim pembuka Milan pada 10 September, ia tidak memungkinkan Serie tujuan A untuk 446 menit berikutnya bermain, dan ia hanya kebobolan dua gol dalam lima dari enam grup Liga Champions Milan tahap pertandingan. Dia membuat penampilan ke-200 nya untuk Milan dalam kekalahan 1-0 dari Ascoli Calcio pada tanggal 20 September, dan pada tanggal 28 Januari 2007, ia memainkan karir 150 nya Serie A pertandingan dalam kemenangan 1-0 atas Parma. Pada 10 Maret, Dida juga menandatangani perpanjangan kontrak tiga tahun yang membuatnya di Milan sampai Juni 2010.

Namun, 2006-07 merupakan pertama musim dilanda cedera dalam karirnya, dan ia merindukan sebelas pertandingan Seri A karena masalah lutut dan bahu; ia telah melewatkan sepuluh pertandingan liga dalam tiga musim sebelumnya digabungkan. Dramanya telah akibatnya menderita lagi dengan awal tahun 2007 dan dia disiksa dengan inkonsistensi sepanjang paruh kedua musim ini. Dida dikritik setelah kebobolan dua kali dari Daniel van Buyten di leg pertama perempatfinal Liga Champions melawan Bayern Munich, yang berakhir pada dasi 2-2. Dia kemudian berbalik pria-of-the-match kinerja di leg kedua saat Milan menutup Bayern 2-0 dan maju ke semifinal melawan Manchester United, di mana ia kembali mendapat kritik setelah blunder pada tujuan Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney di Milan 3-2 kerugian. Sekali lagi, Dida bangkit kembali di leg kedua, menjaga clean sheet lain dalam kemenangan leg kedua Milan 3-0. Dia mempertahankan bentuk kedua-kakinya ke dalam pertandingan ulang akhir CL dengan Liverpool pada tanggal 23 Mei, di mana ia diusir hantu Istanbul dengan tiga menghemat dari Jermaine Pennant, Steven Gerrard, dan Peter Crouch sebagai Milan menang 2-1 dan menaikkan trofi Liga Champions ketujuh .

Pada tanggal 3 Oktober 2007, saat Milan CL pertandingan penyisihan grup melawan Celtic FC di Glasgow, striker Celtic Scott McDonald mencetak pemenang pertandingan di menit ke-90 untuk menutup kemenangan 2-1. Seperti McDonald dan rekan tim merayakan dekat bendera sudut, fan Celtic 27 tahun Robert McHendry memasuki lapangan dan mengetuk Dida di bahu saat ia berlari melewati area penalti Milan. Dida berusaha untuk mengejar tapi setelah beberapa langkah ia tiba-tiba ambruk ke tanah, memegang sisi wajahnya; ia ditandu dari lapangan dan substituted.Although McHendry kemudian menyerahkan diri ke polisi dan diberi larangan seumur hidup dari Celtic Park, Dida didakwa oleh UEFA dengan melanggar aturan menjunjung tinggi "loyalitas, integritas dan sportivitas," karena dianggap bahwa nya cedera itu pura-pura. Dia akibatnya dihukum dengan skorsing dua pertandingan, yang Milan segera mengajukan banding. Dida tidak pernah terbuka mengomentari insiden atau konsekuensi kepada media, tapi sebelum pertandingan kandang pertama Milan sejak pertandingan Celtic, melawan Empoli pada 21 Oktober, ia menawarkan sikap permintaan maaf kepada fans dengan menunda untuk tunduk pada setiap bagian dari orang banyak selama warmups, dan menerima tepuk tangan di respon. [26] hari berikutnya, UEFA mengurangi larangan untuk satu pertandingan, dan dia duduk kemenangan Milan 4-1 atas FC Shakhtar Donetsk pada tanggal 24 Oktober.

Pada tanggal 19 November, Dida bergabung rekan tim Cafu, Kaka, Ronaldo dan Paolo Maldini untuk Pertandingan tahunan kelima Melawan Kemiskinan di Málaga, Spanyol, namun ia melewatkan kelompok pertandingan ulang tahap Milan melawan Celtic pada tanggal 4 Desember karena sakit. Di bulan yang sama, ia menjadi pemenang dua kali pertama FIFA Club World Cup setelah Milan mengalahkan Boca Juniors. Dengan partisipasinya, ia juga mencatat rekor Piala Dunia Klub dengan enam penampilan, tanda yang berlangsung sampai tahun depan ketika pemain Al Ahly-Wael Gomaa dan Mohamed Aboutrika keduanya mendapatkan topi ketujuh mereka pada hilangnya 1-0 untuk Adelaide United di 18 Desember 2008.

Masalah cedera yang sedang berlangsung dan penampilan buruk berkelanjutan Dida terbatas hanya tiga belas pertandingan liga pada 2007-08. Lonceng kematian kampanyenya datang dalam derby pertama tahun melawan Internazionale pada tanggal 23 Desember, di mana ia misterius menyelam di arah yang berlawanan dari tujuan Esteban Cambiasso yang memberi Nerazzurri kemenangan 2-1. Kesalahan membuatnya mendapatkan hujan es kritik dari fans dan media, dan Cambiasso berkomentar kepada wartawan setelah pertandingan, "" Aku tidak akan membuat lelucon tentang Dida. Kami adalah profesional. Itu terjadi bahwa dia melakukan kesalahan. Hal-hal ini bagian dari sepak bola. "Pertandingan terakhirnya adalah saat kalah 5-2 dari Napoli pada 13 Januari 2008, setelah itu ia diperparah cedera lutut saat sesi latihan dan dijatuhkan untuk pertandingan berikutnya dengan Ancelotti mendukung Željko Kalac, yang sendiri bentuk padat (termasuk sebuah gamewinning Hemat dalam kemenangan 1-0 atas Fiorentina pada 2 Februari) terus Dida benched untuk sisa musim ini. Penampilannya di Goal4Africa amal pertandingan pada tanggal 12 Juli ditandai aksi dalam enam bulan-pitch pertamanya.

Dengan kembalinya Abbiati sebagai pilihan pertama Milan untuk musim 2008-09 Serie A, Dida adalah starter untuk kampanye Piala UEFA Milan, yang berakhir dengan eliminasi mereka dengan Werder Bremen pada tanggal 27 Februari 2009 Dia membuat musim Serie A debutnya pada 15 Maret melawan Siena setelah Abbiati diangkut dengan cedera lutut serius di menit ke-13. Dengan Abbiati keluar untuk sisa tahun ini, Ancelotti terus Dida dalam lineup awal lebih Kalac, yang miskin outing di 5-0 meronta-ronta Rusia Railways Cup oleh Chelsea telah diturunkan dia untuk pilihan ketiga. Dia membuat total karir-rendah sepuluh penampilan liga, meskipun enam dari mereka berakhir di seprai bersih.

Dida tidak mampu bersaing memperebutkan tempat 2009-10 awal setelah absen seluruh preseason karena cedera, dan karena itu benched mendukung Marco Storari, yang bertugas keduakalinya dengan Milan setelah dipinjamkan dengan Fiorentina. Namun, ia kembali akan membuat debut liga musiman sebagai pengganti cedera, kali ini pada tanggal 18 Oktober 2009 di kemenangan kandang 2-1 atas Roma, setelah Storari adalah awal terlambat karena menderita cedera paha dari upaya gagal dari René Higuita ini tendangan kalajengking terkenal pada akhir sesi latihan terakhir Milan sebelum pertandingan. Pada tanggal 21 Oktober, setelah menangkap tembakan Esteban Granero selama penampilan pertama Liga Champions musim ini melawan Real Madrid, Dida bergegas untuk memindahkan bola ke tepi lapangan tanpa kontrol penuh dari itu, menyebabkan dia sengaja terpental itu dari lututnya, dan Raúl segera menerkam bola lepas dan memasukkannya ke gawang yang kosong. Kesalahannya akhirnya tidak terbukti mahal sebagai kiper Madrid Iker Casillas keliru dirinya pada dua gol yang memungkinkan Milan untuk memimpin dan menang 3-2. Namun, di bagian belakang pertunjukan liga yang kuat setelahnya, seperti titik-kosong injury time menyelamatkan dari sundulan Pablo Granoche dalam kemenangan 2-1 atas Chievo Verona pada 25 Oktober, dan upaya orang-of-the-match tiga hari kemudian imbang 2-2 dengan Napoli yang termasuk dua dan tiga menghemat menit terpisah dari satu sama lain, [38] Dida tetap di lineup awal meskipun pemulihan penuh Storari dan bentuk yang sangat baik sendiri sebelum cedera. Storari akibatnya dipinjamkan ke Sampdoria pada tanggal 15 Januari.

Namun, setelah Abbiati dibersihkan untuk melanjutkan bermain, ia dan Dida yang juggled masuk dan keluar dari lineup awal oleh pelatih Leonardo, yang akibatnya tidak mampu membangun favorit jelas untuk jersey No.1 karena kedua penjaga bergantian berjalan tinggi bentuk . Pada tanggal 31 Januari, Dida terjawab Milan imbang 1-1 dengan Livorno setelah mengalami cedera punggung selama warmups pregame, dan meskipun pemulihan telah diturunkan ke cadangan setelah tampil hebat Abbiati dalam kemenangan 2-0 atas AS Bari pada tanggal 21 Februari, meskipun Leonardo membantah melaporkan bahwa Dida telah langsung turun sebagai starter. "Nelson telah memiliki musim yang hebat, dan sekarang dia tersedia dan sumber daya. Pilihan Abbiati tidak diberikan, karena saya telah belajar tahun ini bahwa tidak ada yang diberikan." Wakil Presiden Milan Adriano Galliani menegaskan bahwa "duel" antara penjaga tidak ada, dan bahwa itu adalah pilihan Leonardo siapa yang harus bermain. Dia digantikan oleh Abbiati di menit ke-88 pada pertandingan terakhirnya dari musim 2009-10. Kontraknya dengan Milan berakhir pada 30 Juni 2010, yang membuatnya menjadi agen bebas.

Dida menyatakan pada Desember 2011 keinginannya untuk bermain setidaknya dua tahun lagi, dan bahwa beberapa klub menunjukkan minat pada menawarinya kontrak. Dida bermain untuk AC Milan Glorie (pilihan legenda AC Milan) dalam pertandingan untuk bantuan bencana atas Indonesia semua bintang. Dalam pertandingan ini Dida ditempatkan sebagai striker dan bahkan mencetak gol dengan sundulan. Milan menang 5-1 dengan Serginho mendapatkan 4 gol lainnya. Pada bulan Mei 2012, ia bergabung dengan tim Beach Soccer Milan untuk turnamen yang akan dimainkan di bulan yang sama.

Pada tanggal 24 Mei 2012, Dida menandatangani kontrak dengan Portuguesa yang membuat dia di klub Brasil hingga akhir musim, mengakhiri hiatus hampir dua tahun jauh dari sepak bola setelah Juni 2010 keberangkatannya dari Milan.

Pada tanggal 19 Desember 2012, Dida bergabung Grêmio pada biaya dan durasi kontrak yang dirahasiakan. Dida bermain 37 pertandingan untuk Gremio pada musim 2013 tetapi meninggalkan klub setelah musim.

Untuk musim berikutnya, 2014, Dida dipindahkan untuk saingan utama Grêmio ini, Internacional. Disajikan pada 26 Desember 2013, ia mengucapkan terima kasih kepada kepercayaan dari Colorado sisi, karena niatnya tinggal di Porto Alegre, dan mengatakan ia tidak takut tentang persaingan dengan mantan klubnya. Menurut Dida: ".. Merasa baik Ini adalah pertama kalinya saya melakukan ini saya tidak menyesal tentang hal ini Ini merupakan tantangan yang baik saya hanya melihatnya melalui sisi positif..."

Dengan 91 penampilan di 11 tahun, [49] Dida adalah kiper ketiga tertinggi capped Brasil, di belakang Cláudio Taffarel (101), dan Gilmar (94). Satu-satunya kiper Brasil untuk diketahui oleh nama panggilan, ia membuat debut Canarinho nya di 1993 U-21 FIFA World Youth Championship, di mana Brasil memenangkan kejuaraan untuk ketiga kalinya. Cap pertamanya untuk Selecao datang dengan kekalahan 1-0 dari Ekuador pada 7 Juli 1995.

Dida adalah kiper awal untuk Brasil di Olimpiade 1996, tetapi kampanye kesalahan-sarat - yang termasuk tabrakan penalti daerah yang melibatkan Dida dan rekan setimnya Aldair - mengakibatkan kekalahan ke Nigeria dan Jepang dan meninggalkan mereka dengan medali perunggu. Ia melakukan bagiannya pada tahun 1999 kemenangan Copa América Brasil dengan kebobolan hanya dua kali dalam enam pertandingan, selain menghemat penalti Roberto Ayala yang diawetkan kemenangan 2-1 atas rival Argentina di perempat final.

Dida memainkan empat dari lima pertandingan di Piala Konfederasi FIFA 2005 (Marcos membuat satu penampilan karena rotasi skuad), kebobolan empat gol dan peringkat kedua dalam jumlah menghemat belakang Meksiko Oswaldo Sánchez. Salah satu momen kenangan dari kompetisi ini adalah selama penurunan 1-0 kelompok-tahap Brasil ke Meksiko, ketika ia menyelamatkan tempat tendangan Jared Borgetti yang harus direbut kembali dua kali karena pemain berulang perambahan ke area penalti, yang juga menandai satu-satunya hukuman Hemat dari competition.For Piala Dunia 1998 di Prancis, Zagallo terpikat Piala Dunia 1994 pahlawan Taffarel keluar dari pensiun internasional dan kembali ke jersey No.1, sedangkan Dida dipanggil sebagai kiper pilihan ketiga di belakang Taffarel dan Carlos Germano. Meskipun larinya bentuk yang baik dengan Corinthians pada saat Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang, Luiz Felipe Scolari, yang menggantikan Wanderley Luxemburgo sebagai pelatih berikut kualifikasi bersemangat Brazil, bernama Marcos nomornya satu. Dida dan kiper pilihan ketiga Rogério Ceni pernah bermain satu menit dalam kampanye memenangkan Brasil.

Meski tidak pernah bermain pertandingan selama masa singkat di Lugano, Dida mendapat sambutan hangat dari para pendukung lokal selama sesi pelatihan Brasil di Weggis, Swiss sebelum dimulainya Piala Dunia 2006. Setelah empat belas pertandingan langsung di bangku di dua Piala Dunia terakhir, ia terpilih sebagai kiper awal oleh pelatih Carlos Alberto Parreira ke putaran final, yang pada gilirannya membuatnya penjaga kulit hitam pertama untuk memulai untuk Brasil di final Piala Dunia sejak Barbosa pada tahun 1950, yang ia dielu-elukan oleh olahraga Brasil Globo Esporte harian sebagai Dida, o homem que o quebrou tabu ("Dida, orang yang melanggar tabu"). Dia hanya kebobolan dua gol dalam lima pertandingan sebagai Brazil mengalahkan Kroasia, Australia, Jepang, dan Ghana sebelum dieliminasi oleh Perancis di perempat final, pertandingan yang melihat Verdeamarela mengelola hanya satu tembakan ke gawang di seluruh kontes. Karena bermain konsisten dalam gawang, Dida adalah salah satu dari beberapa pemain untuk menghindari murka media Brasil dan penggemar setelah eliminasi tim.

Selain start sejarah Piala Dunia, ia menjadi kiper Selecao pertama yang memakai ban kapten sejak EMERSON Leao di Piala Dunia 1978, ketika menjabat kapten Cafu beristirahat untuk menang Brasil 4-1 atas Jepang pada 22 Juni, [54] pertandingan di mana Dida digantikan oleh Ceni akhir babak kedua sebagai bagian dari rencana Parreira untuk bermain terutama cadangan.

Kekalahan Brasil oleh Perancis akhirnya menjadi Dida karya seni. Pada tanggal 1 Oktober 2006, pelatih Brasil Dunga baru mengumumkan dalam sebuah wawancara televisi, "Dida mengatakan kepada saya bahwa Selecao tidak lagi menjadi prioritas dalam karirnya." Meskipun nya heroik Piala Dunia, ia tidak dipanggil untuk bermain tim nasional setelah Juli 2006 dimulainya Dunga, yang dihindari banyak veteran yang mendukung skuad didominasi muda pasca-Piala Dunia Brasil pertandingan. Dia menghadapi total delapan penalti dalam karir internasionalnya, menyimpan enam dari mereka.
Dida disajikan tim nasional Brasil selama lebih dari sepuluh tahun.

Secara keseluruhan, Dida adalah pemain paling sukses dalam sejarah Piala Konfederasi. Selain menjadi pemenang dua kali pada tahun 1997 dan 2005, ia adalah pemimpin kompetisi sepanjang masa dalam topi (22) serta satu-satunya pemain untuk berpartisipasi dalam lima turnamen berturut-turut (1997-2005)..........

Blog Archive

My Ping in TotalPing.com
SEO Reports for toplayer-soccer.blogspot.com