Rss

Tampilkan postingan dengan label UEFA Best Player. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UEFA Best Player. Tampilkan semua postingan

08 September 2014

Andriy Shevchenko

Andriy Mykolayovych Shevchenko ,lahir di Dvirkivschyna, RSS Ukraina, Uni Soviet, 29 September 1976 juga akrab dipanggil Sheva adalah mantan pemain sepak bola asal Ukraina yang bermain sebagai Striker.

Shevchenko pernah bermain untuk Dynamo Kyiv, Milan dan Chelsea. Ia adalah pencetak gol ketiga terbanyak dengan 67 gol di belakang Filippo Inzaghi dan Raúl dalam kompetisi klub sepak bola Eropa. Shevchenko telah mencetak 175 gol bagi Milan dan merupakan pencetak gol kedua terbanyak dalam sejarah klub tersebut. Ia berhasil meraih gelar juara Liga Champions UEFA bersama Milan dan beberapa gelar domestik bersama Dynamo Kyiv dan Chelsea. Pada bulan Desember 2004, Shevchenko dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa tahun tersebut.

Shevchenko telah memperkuat timnas Ukraina sejak tahun 1995. Ia mencatat 111 kali penampilan dan 48 gol, termasuk saat mengantarkan Ukraina ke perempatfinal Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman.

Pada 28 Juli 2012, ia menyatakan diri pensiun dari sepak bola untuk berkarier di politik.

Pada tahun 1986, Shevchenko gagal dalam tes masuk sebuah sekolah khusus olahraga di Kyiv. Namun tak lama kemudian, talenta sepak bolanyanya menarik perhatian seorang pemantau dari Dynamo Kyiv pada saat dirinya bermain dalam sebuah turnamen junior, dan langsung mengajaknya untuk bergabung bersama klub. Empat tahun kemudian, Shevchenko berhasil masuk dalam skuat Dynamo Kyiv U-14 untuk Piala Ian Rush (sekarang Piala Super Wales); ia menyudahi turnamen sebagai pencetak gol terbanyak dan medapat sepasang sepatu Ian Rush sebagai hadiah dari mantan pemain Liverpool tersebut.

Pada musim 1992–93, Shevchenko menjadi pencetak gol terbanyak bagi Dynamo-2 dengan torehan 12 gol. Ia memulai debutnya di tim utama pada 28 Oktober 1994 pada sebuah pertandingan melawan Shakhtar Donetsk. Musim berikutnya, ia berhasil mencetak 6 gol dari 20 penampilan di liga, dan berhasil membukukan hat-trick pada leg pertama Liga Champions 1997–98 melawan FC Barcelona, saat Dynamo menang 4–0. Bersama timnya, ia berhasil mencicipi gelar juara liga di setiap musim dari total lima musim keberadaanya di klub tersebut.
AC Milan

Pada tahun 1999, Shevchenko bergabung dengan klub asal Italia AC Milan dengan biaya kesepakatan $25 juta. Ia menjalani debutnya pada 28 Agustus 1999 saat imbang 2–2 kontra Lecce. Bersama 5 pemain lain — Michel Platini, John Charles, Gunnar Nordahl, Istvan Nyers, and Férénc Hirzer — ia berhasil, sebagai pemain asing, menjadi pencetak gol terbanyak Serie A pada musim debut dengan mengumpulkan 24 gol dari 32 pertandingan. Shevchenko melanjutkan performa apiknya pada musim 2000–01, dengan mencetak 24 gol dari 34 pertandingan.

Walaupun hanya berhasil mengumpulkan 5 gol dari 24 penampilan, kebanyakan disebabkan cedera, Shevchenko menjadi pemain kelahiran Ukraina pertama yang berhasil memenangi titel Liga Champions setelah Milan berhasil merebut trofi Champions keenam mereka pada musim 2002–03. Ia mencetak penalti kemenangan pada adu penalti kontra Juventus di pertandingan final. Setalah kemenangan di Liga Champions tersebut, Shevchenko terbang kembali ke Kiev untuk menaruh medali di makam Valeriy Lobanovskyi, manajernya saat di Dynamo, yang meninggal pada tahun 2002. Ia kembali menjadi top scorer Serie A untuk kedua kalinya pada 2003–04, dengan catatan 24 gol dari 32 pertandingan, bersamaan dengan titel Scudetto yang berhasil diraih Milan untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Ia juga mencetak gol penentu kemenangan pada Piala Super UEFA 2003 saat melawan FC Porto. Pada Agustus 2004, ia mencetak trigol ke jala Lazio yang membawa Milan memenangi Piala Super Italia 2004. Shevchenko menutup musim dengan memperoleh penghargaan Ballon d'Or dan menjadikannya pemain Ukraina ketiga yang memenangi penghargaan serupa setelah Oleg Blokhin dan Igor Belanov. Pada tahun yang sama, namanya masuk dalam daftar FIFA 100.

Ia mencetak 17 gol di musim 2004–05 setelah absen di beberapa pertandingan akibat cedera tulang pipi. Musim berikutnya, Sheva membuat sejarah di ajang Liga Champions; pada 23 November 2005, ia mencetak empat gol saat Milan menggilas Fenerbahçe 4–0 di babak grup, dan menjadi pemain kelima dalam sejarah yang mampu melakukan hal tersebut; bersama Marco van Basten, Simone Inzaghi, Dado Pršo dan Ruud van Nistelrooy (kemudian Lionel Messi yang juga berhasil melakukannya pada musim 2009–10 season), dan ia satu-satunya yang melakukannya pada partai tandang. Namun Milan urung meraih trofi akibat gagalnya eksekusi penalti Shevchenko di babak final kontra Liverpool. Pada musim 2005–06, ia mencetak gol terakhirnya di Milan saat mengalahkan Olympique Lyonnais 3–1 di leg kedua perempatfinal. Walaupun harus tersingkir oleh FC Barcelona di babak semi final, ia tetap menjadi pencetak gol terbanyak turnamen dengan koleksi 9 gol dari 12 pertandingan.

Pada 8 Februari 2006, ia masuk peringkat dua dari daftar pencetak gol terbanyak AC Milan sepanjang masa , satu tingkat di bawah Gunnar Nordahl, setelah mencetak gol ke jala Treviso. Shevchenko mengakhiri 7 tahun karier gemilangnya di AC Milan dengan torehan 175 gol dari 296 penampilan.

Pada musim panas 2005, pemilik Chelsea, Roman Abramovich, mengajukan tawaran dengan rekor biaya mencapai €75.2 juta plus penyerang Hernán Crespo kepada Milan guna mendapatkan Shevchenko. Milan menolak tawaran harga dari Chelsea, namun tetap mengambil Crespo sebagai pemain pinjaman. Sementara Shevchenko justru kian diproteksi oleh klub dengan pemberian kontrak perpanjangan enam tahun.

Pada 28 Mei 2006, Shevchenko meninggalkan Milan menuju Chelsea dengan biaya transfer £30.8 juta (€43.875 juta), menggeser rekor transfer klub untuk Michael Essien pada musim sebelumnya, yang juga memecahkan rekor transfer sepak bola Inggris. Terungkap di kemudian hari oleh Mourinho, bahwa kedatangan Shevchenko dilakukan setelah kegagalan Chelsea menggaet Samuel Eto'o.

Shevchenko menjalani debut untuk Chelsea pada 13 Agustus 2006 di ajang Community Shield. Pada pertandingan tersebut, ia berhasil mencetak satu gol walaupun harus takluk 2–1 dari Liverpool. Pada 23 Agustus, ia mencetak gol liga pertamanya — dan gol ke 300 selama karier profesionalnya di level klub dan internasional — saat kalah 2–1 dari Middlesbrough. Penampilannya di musim debut, sempat terhenti akibat cedera dan operasi hernia. Ia mengakhiri musim dengan mengumpulkan 14 gol dari 51 pertandingan.

Di musim selanjutnya, Shevchenko mulai tampil tidak teratur sebagai starting lineup, akibat cedera dan penunjukkan Avram Grant sebagai pelatih, menyusul kepergian Mourinho. Pada periode ini, ia hanya mencetak 5 gol dari 17 penampilan di liga.

Wakil presiden Milan, Adriano Galliani, mengajukan tawaran untuk membawa kembali Shevchenko ke San Siro, setelah keberadaan Shevcenko dinilai sebagai surplus di skuat Chelsea. Ia pun kembali ke klub lamnya sebagi pemain pinjaman untuk musim 2008–09. Kedatangan Shevchenko ke Milan untuk kedua kalinya ini dianggap kurang berhasil, setelah ia gagal mencetak satu gol pun di liga dan hanya mencetak 2 gol dari 26 penampilan. Di akhir musim, Milan menyatakan bahwa Shevchenko akan kembali ke Chelsea pada musim selanjutnya, bersamaan dengan kepindahan manjaer Milan saat itu, Carlo Ancelotti.

Sekembalinya dari Milan, ia hanya tampil satu kali di liga. Ancelotti pun memberi saran bahwa sebaiknya Shevchenko meninggalkan klub sebelum penutupan transfer musim panas.

Pada 28 Agustus 2009, Shevchenko meneken kontrak dua tahun dengan mantan klubnya, Dynamo Kyiv. Ia berhasil mencetak gol penalti di pertandingan pertamanya saat menang atas Metalurh Donetsk 3–1 pada 31 Agustus 2009. Pada musim ini, ia seringkali diturunkan di posisi sayap kanan, sehingga ia pun mendapat penghargaan sebagai sayap kanan terbaik pada musim 2009. Pada Oktober 2009, ia didapuk sebagi pemain terbaik Liga Utama Ukraina.

Pada 28 Juli 2012, Shevchenko mengumunkan ihwal kepensiunannya dari sepak bola untuk berkarier di politik.

Shevchenko telah memperkuat timnas Ukraina sejak tahun 1995. Ia mencatat 111 kali penampilan dan 48 gol, termasuk saat mengantarkan Ukraina ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya. Ia memegang rekor sebagai pencetak gol termuda sekaligus tertua di timnas Ukraina.

Shevchenko mencetak 6 gol pada kualifikasi Piala Dunia FIFA 2006, yang berhasil membawa negaranya melaju ke turnamen sepak bola internasional bergengsi untuk pertama kalinya. Ia menjadi kapten dan mencetak gol saat Ukraina meraih kemenangan pertamanya dalam sejarah Piala Dunia, saat mengalahkan Arab Saudi 4–0. Ia kemudian mencetak gol penentu kemenangan lewat tendangan penalti saat Ukraina mengalahkan Tunisia 1–0 dan berhasil melaju ke babak 16 besar untuk melawan Swiss. Walaupun ia gagal mencetak penalti, Ukraina tetap menang atas Swiss lewat babak adu penalti. Setelahnya, Ukraina tersingkir setelah kalah 3–0 dari sang juara, Italia, pada babak perempat final.

Pada Mei 2012, Shevchenko masuk dalam skuat Ukraina untuk Euro 2012. Di pertandingan pertama Ukraina, Shevchenko mencetak dua gol sundulan untuk mengalahkan Swedia 2–1 di in Grup D. Pada pertandingan terakhir babak grup kontra Inggris, "gol hantu" Marko Dević di babak kedua tak dianggap oleh wasit dan Ukraina harus menerima kekalahan 1–0 oleh gol Wayne Rooney. Bola tendangan Dević dibuang keluar setelah melewati garis gawang Inggris oleh John Terry, di bawah pengawasan asisten wasit tambahan yang berdiri di samping gawang (sebagaimana terkonfirmasi dalam video tayangan ulang). Insiden ini membuat debat mengenai teknologi garis gawang kembali ke permukaan. Usai pertandingan tersebut, Shevchenko mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari karier sepak bola internasional.

Pada November 2012, Shevchenko menolak tawaran Federasi Sepak Bola Ukraina untuk menjadi kepala pelatih timnas Ukraina.

28 Agustus 2014

Pavel Nedved UEFA Best Player

Pavel Nedved, lahir 30 Agustus 1972 adalah seorang mantan pemain sepak bola berkebangsaan Republik Ceko, yang bermain sebagai gelandang. Ia adalah salah satu pemain Ceko paling sukses, memenangkan berbagai piala bersama Lazio dan Juventus, termasuk edisi terakhir Piala Winners.

Nedved adalah pemain kunci tim nasional sepak bola Republik Ceko yang mencapai partai final Euro 1996, di mana ia menarik perhatian internasional dan akhirnya menyandang ban kapten. Tersohor karena ketangguhan dan kemampuan mengolah bola yang baik, disertai tembakan yang kuat dan kemampuan mencetak gol, Nedved dijuluki Furia Ceca oleh suporter Italia dan meriam Ceko oleh pers berbahasa Inggris.

Memenangkan penghargaan Ballon d'Or pada 2003, Nedved menjadi pemain Ceko kedua yang menerima penghargaan ini, dan yang pertama sejak pembubaran Cekoslowakia. Ia juga merupakan penerima penghargaan Golden Foot yang kedua pada 2004 Sepanjang karirnya Nedved telah memenangkan berbagai penghargaan, seperti pemain Ceko Terbaik Tahun Ini empat kali dan menerima Bola Emas enam kali. Nedved pensiun setelah berakhirnya musim 2008-09, setelah 19 tahun sebagai pemain profesional. Ia bermain 501 kali di level klub dan mencetak 110 gol. Di level internasional, ia 91 kali membela negaranya dan mencetak 18 gol.

Lahir di sebuah kota kecil bernama Cheb dan dibesarkan di kota tetangga Skalná, Nedved memulai karirnya di negara asalnya. Sebagai seorang penggemar sepak bola sejak kecil, Nedved mulai bermain untuk tim di dekat rumahnya, Tatran Skalná, pada tahun 1977, pada usia lima tahun. Ia kemudian pindah ke Ruda Hvězda Cheb pada tahun 1985, tetapi hanya satu musim bermain di sana sebelum pindah ke Skoda Plzeň, klubnya untuk lima tahun ke depan. Nedved mulai bermain untuk Dukla Praha pada 1991, tetapi hanya bermain selama satu musim sebelum bergabung dengan rival sekota Dukla, Sparta Praha, pada 1992 Bersama Sparta, Nedved memenangkan satu Liga Pertama Cekoslowakia, dua Liga Gambrinus dan satu Piala Ceko. [3] Penampilannya di Euro 1996, termasuk satu gol di laga fase Gurp melawan Italia, mulai melambungkan namanya. Meskipun diketahui telah mencapai kesepakatan lisan dengan PSV Eindhoven, Nedved akhirnya angkat kaki dari Sparta menuju klub Serie A Italia, Lazio pada 1996.

Nedved mencetak gol pertamanya di liga ke gawang Cagliari pada 20 Oktober 1996 dan mengakhiri musim 1996-97 dengan tujuh gol. Nedved dengan cepat menjadi bagian penting dari skuat Lazio dan mencetak empat gol di tiga laga awal klub pada musim 1997-98. Lazio mencetak rekor 24 pertandingan tak terkalahkan dari November 1997 sampai April 1998, berakhir di tangan Juventus, dimana Nedved diusir keluar oleh wasit. Musim itu, Lazio menjuarai Coppa Italia 1997-98, dan juga mencapai partai final Piala UEFA 1997-98. Nedved dan Lazio memulai musim 1998-99 dengan memenangkan Supercoppa Italiana; Nedved menjebol gawang Juventus dan Lazio menang 2-1. Ia juga berperan penting dalam perjalanan Lazio memenangkan Piala Winners UEFA yang terakhir, mencetak gol ke gawang Lausanne di putaran pertama dan di dua pertandingan perempatfinal melawan Panionios, dimana mereka menang agregat 7-0. Di final, ia mencetak gol pengunci kemenangan 2-1 atas Mallorca Gol tersebut merupakan gol terakhir di Piala Winners, karena turnamen ini dihapus pada musim berikutnya.
Nedved bermain di Piala Super UEFA 1999 melawan Manchester United. Lazio memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 1-0 Pada musim itu, Lazio memenangkan dwigelar domestik - memenangkan Serie A dan Coppa Italia pada 2000, dimana Nedved berperan penting. Nedved memenangkan Supercoppa untuk kali kedua pada tahun 2000 Bersama Siniša Mihajlović, Nedved diusir di partai perempatfinal Coppa Italia pada Desember 2000, dan pertandingan tersebut berakhir buruk untuk sang jawara bertahan: mereka takluk 5-3 dalam agregat pada Udinese. Nedved bermain di Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya, mencetak gol di partai yang berkesudahan 2-2 melawan Real Madrid di fase grup kedua, tetapi itu tidak cukup untuk meloloskan Lazio ke babak selanjutnya. Di pertandingan terakhir, Nedved dikritik oleh pelatih Leeds United, David O'Leary karena tekel keras terhadap Alan Maybury, meskipun wasit tak menganggapnya sebagai sebuah pelanggaran. Ia akhirnya dijatuhi hukuman larangan bertanding tiga kali di kompetisi Eropa oleh UEFA.

Meskipun Nedved menandatangani kontrak baru yang akan mengikatnya di Olimpico selama empat tahun ke depan pada April 2001, Lazio berusaha untuk menjualnya, bersama dengan Juan Sebastian Veron. Usaha ini memicu protes kepada presiden klub Sergio Cragnotti dari kalangan suporter pada musim panas 2001 Nedved akhirnya dijual ke Juventus, sementara Verón berlabuh di Manchester United.

Selama lima musim bersama Lazio, Nedved dihubung-hubungkan dengan berbagai klub seperti Manchester United dan Chelsea, namun akhirnya memilih untuk bergabung dengan Juventus pada tahun 2001 dengan biaya € 41 juta. Ia dipandang sebagai pengganti Zinedine Zidane, legenda Prancis yang pindah ke Real Madrid pada musim panas yang sama. Nedved bermain secara rutin di skuat Juventus yang memenangkan scudetto pada musim 2001-02 dan 2002-03. Nedved berperan krusial dalam kemenangan juara liga Juventus pada 2003, namun ia juga merupakan sosok yang kontroversial. Ia keluar dari Asosiasi Pesepakbola Italia sebagai bentuk protes pembatasan pemain non-Uni Eropa di Serie A, mengingat negara asalnya belum menjadi anggota UE sampai 2004 Nedved turut membawa Juventus ke final Liga Champions UEFA 2003 melawan Milan, tapi ia tak bisa bermain di final karena terkena akumulasi kartu setelah menerima kartu kuning karena melakukan pelanggaran terhadap gelandang Real Madrid, Steve McManaman di semifinal.

Pada Desember 2003, Nedved terpilih sebagai "Pesepakbola Terbaik Dunia Tahun Ini" versi World Soccer.Pada bulan yang sama, ia memenangkan Ballon d'Or, mengungguli para pesaing lain seperti Thierry Henry dan Paolo Maldini, menjadi pemain Ceko kedua yang memenangkannya setelah Josef Masopust pada 1962. Ia memenangkan penghargaan lain di negara asalnya pada 2004 ketika terpilih sebagai pemenang bola Emas yang diberikan para jrunalis sepak bola di Republik Ceko untuk kali kelima dalam tujuh tahun.

Musim 2004-05 merupakan masa sulit baginya, karena harus beristirahat selama dua bulan karena cedera lutut dan kepala.Situasi ini membuatnya mengancam akan pensiun dari sepak bola pada April 2005.Meskipun Juventus mengakhiri musim dengan menggondol gelar juara liga dan mengulanginya kembali musim berikutnya, gelar -gelar ini dicabut karena skandal calciopoli, dimana Juventus dihukum karena terbukti terlibat dalam skandal pengaturan skor. Skandal ini menyebabkan Juventus didegradasi ke Serie B meskipun merupakan pemuncak klasemen akhir, dan banyak pemain bintang seperti Fabio Cannavaro dan Lilian Thuram meninggalkan klub, dan masa depan mereka yang tersis tak jelas. Setelah Piala Dunia, Nedved membantah rumor kepergiannya dengan menegaskan kembali komitmennya untuk membantu Juventus kembali ke divisi teratas.Meskipun begitu, satu musim di Serie B tampaknya tak terlalu baik untuknya. Ia dilarang bermain selama lima pertandingan setelahh menerima kartu merah pada laga kontra Genoa pada Desember 2006, yang membuatnya kembali mengancam untuk pensiun. Namun, ia akhirnya tetap bersama Juventus sampai akhir musim, mencetak sebelas gol untuk membantu Si Nyonya Tua menjuarai Serie B 2006-07.Nedvěd bermain dalam sebuah latih tanding pada 2007.

Pada musim 2007-08, Juventus kembali bermain di Serie A. Ia kembali rutin bermain untuk Bianconeri, menjadi pilihan utama untuk posisi sayap kiri dan mencetak dua gol sepanjang musim tersebut. Tapi, ia tak pernah lepas dari kontroversi. Nedved dikecam pada November 2007 setelah tekelnya mematahkan fibula gelandang Inter Milan, Luis Figo. Pada April 2008, Nedved menghabiskan semalam di rumah sakit setelah terkena gegar otak karena berbenturan dengan Roberto Guana dalam laga kontra Palermo.

Nedved mencetak gol perdana Juventus di musim 2008-09 di laga yang berakhir imbang 1-1 di Stadion Artemio Franchi, kandang Fiorentina. Ia juga mencetak dwigol ke gawang Bologna dalam kemenangan tandang 2-1 pada Oktober 2008 Pada 26 Februari 2009, Nedved mengumumkan bahwa ia akan pensiun di akhir musim. Ia menyatakan pengunduran dirinya bukanlah karena "alasan finansial", tetapi untuk lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarganya. Pada 10 Maret 2009, Nedved diusulkan karena cedera setelah bermain selama 12 menit dalam laga putaran kedua 16 besar Liga Champions melawan Chelsea. Juventus akhirnya kalah agregat 3-2. Ia pensiun di akhir musim, mendapat kehormatan untuk mengenakan ban kapten di laga terakhirnya melawan mantan timnya Lazio dan membantu proses terciptanya gol Vincenzo Iaquinta, yang berkesudahan 2-0 untuk kemenangan Juventus.

Nedved mulai bermain untuk tim muda Cekoslowakia pada 1988, mewakili negaranya di tingkat U15 sebelum terus naik ke tim U16, U17 dan U18. Pada tahun 1992, ia tampil pertama kalinya untuk Cekoslowakia U-21, dan terus tampil sebanyak tujuh kali antara tahun 1992 dan 1993.

Nedved tampil pertama kali membela Republik Ceko pada bula Juni 1994, dimana mereka menang 3-1 atas Republik Irlandia. Turnamen utamanya yang pertama adalah Euro 1996, dimana ia mencetak gol internasional pertamanya di tingkat senior dan membantu negaranya mencapai partai final.

Republik Ceko tidak difavoritkan untuk menang atas Jerman di laga perdana mereka; meskipun mendapat dua peluang, Nedved gagal mencetak gol dan Jerman memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 2-0. Nedved menjadi salah satu dari sepuluh pemain yang mendapat kartu kuning. Namun, Nedved berperan penting dalam membantu pertahanan Ceko, mengusir sebuah tembakan keras dari Christian Ziege keluar lapangan.

Nedved mencetak gol internasional pertamanya di level senior ke gawang Italia, membuat Republik Ceko unggul hanya empat menit setelah peluit dimulainya pertandingan. Meskipun Italia berhasil menyamakan kedudukan di babak pertama, mereka harus bermain dengan sepuluh orang dan Ceko mencetak gol kedua sebelum turun minum. The match ended 2-1. Nedved bermain di laga ketiga fase grup, menghadapi Rusia, tetapi menerima kartu kuning keduanya di kejuaraan tersebut. Republik Ceko berhasil menahan imbang Rusia 3-3 dan melaju ke babak gugur.

Karena akumulasi kartu, Nedved kehilangan kesempatan membela Ceko di partai perempatfinal melawan Portugal. [49] Namun, Ceko berhasil menang tanpanya dan melaju. Di partai semifinal melawan Perancis, Nedved terpilih sebagai man of the match dan Ceko melaju ke partai final setelah memenangkan adu penalti, dengan Nedved menjebol gawang Prancis sebagai eksekutor kedua. Ia dan Ceko kembali bertemu Jerman di final, tetapi kalah 2-1 setelah gol emas yang dicetak Oliver Bierhoff.

Di Euro 2000, Nedved tidak dapat berlatih seperti biasanya karena cedera pergelangan kaki. Di laga perdana Ceko melawan Belanda, tembakan-tembakan Nedved dan Jan Koller selalu membentur tiang sebelum Belanda berhasil mencetak gol kontroversial lewat titik putih sesaat sebelum peluit akhir ditiup. Dan di laga kedua, melawan Prancis, Nedved dilanggar di kotak dua belas pas, memberikan penalti untuk Ceko yang dieksekusi oleh Karel Poborský untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Meskipun berhasil melepaskan beberapa tembakan ke gawang, Nedved gagal menaklukkan kiper Fabien Barthez dan Prancis memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 2-1. Nedved tampil di laga grup ketiga, melawan Denmark, tetapi kemenangan 2-0 mereka jadi sia-sia dan terpaksa angkat kaki lebih dulu dari turnamen itu. Setelah berakhirnya Euro, Nedved mengambil alih ban kapten tim nasional dari Jiří Němec.

Di Euro 2004 ia berperan penting di laga fase grup kontra Belanda. Tertinggal dua gol setelah 19 menit, Ceko berhasil membalikkan keunggulan menjadi 3-2 dengan Nedved bermain dengan luar biasa. Sembilan pemain, termasuk Nedved, diistirahatkan pada pertandingan melawan Jerman, dimana mereka telah memastikan kelolosan ke babak gugur. Ia menerima kartu kuning di partai perempatfinal melawan Denmark, yang kemudian dibatalkan setelah proses banding. Ini berarti Nedved tidak akan tampil di final jika ia mendapat satu lagi kartu kuning di partai semifinal kontra Yunani dengan asumsi Ceko menang.Nyatanya, Ceko harus bertekuk lutut dari Yunani; Nedved sendiri mengalami cedera lutut dan diusulkan. Setelah kekalahan Nedved mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional. Bersama Petr Cech dan Milan Baros, ia terpilih masuk ke dalam Tim Terbaik Turnamen.

Setelah bujukan dari pelatih Karel Bruckner dan rekan-rekan senegaranya, Nedved memutuskan untuk membatalkan pensiunnya untuk menghadapi putaran play-off Piala Dunia 2006 melawan Norwegia, dimana Ceko berhasil menang dan melaju ke putaran final untuk pertama kalinya sejak pecahnya Cekoslowakia. Keikutsertaannya di Piala Dunia sempat nyaris terganjal cedera lutut pada bulan Juni 2006, meskipun pada akhirnya ia tetap bermain.

Di laga pertama, Republik Ceko berhasil menang telak 3-0 atas Amerika Serikat tetapi kehilangan beberapa pemain kunci karena cedera dan akhirnya kalah di dua laga tersisa kontra Ghana dan Italia, dan Ceko akhirnya mengakhiri turnamen di peringkat ketiga grup. Nedved sempat mengira bahwa ia mencetak gol di laga kontra Ghana, tetapi dideklarasikan offside oleh wasit segera setelah ia mulai merayakannya. Nedved mendapat beberapa peluang saat melawan Italia, tetapi berhasil diamankan oleh rekan setimnya di Juventus, Gianluigi Buffon. Nedved akhirnya mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional setelah pertandingan persahabatan melawan Serbia dan Montenegro pada bulan Agustus 2006, dimana ia membuat penampilan ke-91 dan terakhirnya. Belakangan ia menolak untuk membatalkan keputusannya meskipun dibujuk oleh rekan senegara dan mantan pelatih Bruckner untuk bermain di Euro 2008.

Nedved ambil bagian dalam Praha Half Marathon pada 2010, mengakhirinya dengan catatan waktu 1:49:44. Ini adalah lomba pertamanya dalam jarak itu. Ia juga ikut dalam Prague Marathon pada 2012, mencatat waktu 3:50:02 untuk jarak 42 kilometer. Exor, perusahaan investasi milik keluarga Agnelli, mengusulkan Nedved untuk duduk di dewan direksi Juventus pada 12 Oktober 2010 Ia resmi menjadi salah satu direktur klub pada 27 Oktober 2012 Pada Januari 2013, ia dijatuhi hukuman larangan menghadiri laga Serie A selama tiga pekan setelah terbukti menghina wasit Paolo Valeri di laga Juventus kontra Sampdoria.

Nedved dijuluki Furia Ceca oleh suporter di Italia, dikenal karena kemampuan, konsistensi dan semangatnya. Di koran-koran berbahasa Inggris, Nedved dijuluki sang meriam Ceko. Meskipun bermain di sayap kiri, Nedved bisa menggunakan kedua kakinya dengan sama baiknya. Ia dikenal sebagai spesialis tendangan jarak jauh. Mantan pelatih Lazio Sven-Göran Eriksson mendeksripsikan Nedved sebagai "gelandang yang tak biasa, benar-benar sempurna".

Nedved dilahirkan dari pasangan Václav dan Anna. Ia memiliki seorang istri, Ivana, yang dinikahinya pada tahun 1992 Pasangan ini memiliki dua orang anak, dinamai seperti orang tua mereka: Ivana dan Pavel.

18 Agustus 2014

Paolo Maldini

Paolo Maldini ,lahir di Milan, Italia, 26 Juni 1968 adalah seorang pesepak bola Italia. Sepanjang kariernya dia hanya bermain di klub AC Milan, di mana dia paling sering diposisikan sebagai bek kiri dan bek tengah. Ia bertinggi tubuh 188 cm. Maldini adalah salah satu legenda sepak bola Italia yang sangat disegani. Meskipun sekarang umurnya sudah hampir mencapai kepala empat, tapi dia tetap konsisten dengan permainannya. Di Milan, saat ini ia sering dipasangkan dengan Alessandro Nesta jika bermain sebagai bek tengah.

Di pentas Serie A, Paolo Maldini berhasil menyamai rekor penampilan Dino Zoff di Serie A sebanyak 570 kali pada 18 September 2005 dalam pertandingan melawan Sampdoria. Pertandingan tersebut juga merupakan yang ke-800 dalam kariernya bersama AC Milan. Kontrak Maldini awalnya akan berakhir pada akhir musim 2007-08 namun kemudian diperpanjang hingga musim 2008-09. Untuk dedikasi terhadap klubnya, AC Milan, seragam bernomor 3 akan turut dipensiunkan sampai putranya, Christian, masuk ke skuat utama AC Milan.

Debut Maldini di Serie A terjadi pada tahun 1985 melawan Udinese, saat berusia 16 tahun. Sejak saat itu dia mempunyai karier yang cemerlang, memenangi banyak trofi bersama Milan (hingga 2007: 7 gelar Serie A dan 5 gelar Liga Champions). Maldini bisa dikatakan adalah bek terbaik di dunia pada puncak kariernya. Hal ini ditandai dengan keberhasilan Maldini meraih peringkat tiga dalam Ballon d'Or versi majalah France Football pada tahun 1994 dan 2003.

Pada debutnya, Maldini dipasang oleh pelatih Nils Liedholm sebagai bek kanan. Musim berikutnya, posisi Maldini diubah menjadi bek kiri, seiring kemampuannya menggunakan kedua kakinya. Di posisi ini Maldini melegenda sampai bertahun-tahun sebagai seorang bek kiri. Pada tahun 1997, setelah Franco Baresi (kapten dan bek tengah Milan) pensiun, Maldini mulai dicoba posisi sebagai bek sentral. Peran ini dilakoni dengan baik, hingga saat ini Paolo Maldini juga dikenal sebagai seorang bek sentral. Maldini juga dikenal akan kepemimpinannya yang berpengaruh, temperamennya yang tenang dan pertahanannya yang tanpa cela.

Maldini adalah orang ke-5 yang tampil seratus kali di Liga Champions sepanjang sejarah seiring dengan penampilannya melawan Glasgow Celtic di babak kedua Liga Champions Eropa 2006/2007. Setelah 25 tahun membela Milan, Maldini melempar pernyataan tentang kemungkinan dirinya akan pensiun pada akhir musim 2007/2008, seiring dengan berakhir kontrak dirinya dengan Milan. Namun, menginjak usia 40 tahun pada bulan Juni 2008, Maldini masih akan bermain untuk Milan pada musim 2008/2009. Maldini benar-benar pensiun pada musim 2009, ia telah memutuskan untuk pensiun dari AC milan, klub yang telah membesarkan namanya.

Paolo Maldini lahir dari keluarga pesepak bola. Ayahnya, Cesare, merupakan kapten AC Milan pada tahun 1960-an yang turut menjuarai Piala Champions pada tahun 1963. Generasi ketiga Maldini yang merupakan putra pertama Paolo dengan model asal Venezuela Adriana Fossa, Christian Maldini, saat ini juga masuk ke dalam klub AC Milan untuk kategori tim muda.

10 Agustus 2014

Matthias Sammer

Matthias Sammer ,lahir 5 September 1967 merupakan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Jerman. Dia melatih untuk tim Borussia Dortmund dan VfB Stuttgart. Dia pernah bermain untuk klub Dynamo Dresden, VfB Stuttgart, F.C. Internazionale Milano dan Borussia Dortmund.

Di timnas Jerman Timur, dia bermain 23 kali dan mencetak 6 gol serta timnas Jerman Barat, dia bermain 51 kali dan mencetak 8 gol.


Hristo Stoichkov

Hristo Stoichkov ,lahir di Plovdiv, 8 Februari 1966 merupakan seorang mantan pemain sepak bola berkebangsaan Bulgaria dan kini menjadi pelatih di klub Litex Lovech. Dia pernah bermain di klub utamanya seperti FC Hebros, CSKA Sofia, Barcelona, Parma, Al Nassr FC, Kashiwa Reysol, Chicago Fire, dan D.C. United.





Dia merupakan anggota timnas Bulgaria di Piala Dunia FIFA 1994 dan Piala Dunia FIFA 1998.




05 Juni 2014

Jean-Pierre Papin

Jean-Pierre Papin , lahir di Boulogne-sur-Mer, Perancis, 5 November 1963 merupakan seorang mantan pemain sepak bola dan pelatih berkebangsaan Perancis yang saat ini dia melatih klub RC Lens yang sukses membawa RC Strasbourg promosi. Di karier pemain, dia bermain untuk INF Vichy, Valenciennes FC, Club Brugge, Olympique de Marseille, AC Milan, Bayern München, FC Girondins de Bordeaux, dan En Avant Guingamp. Di timnas Perancis, dia bermain 54 kali dan mencetak 30 gol.




      Gelar :
  • Champion's League: 1994
  • UEFA Cup: 1996
  • Première Division Française: 1989, 1990, 1991, 1992
  • Coupe de France: 1989
  • Serie A: 1993, 1994
  • Italian Super Cup: 1992
  • Belgian Cup: 1986
  • Kirin Cup : 199

02 Juni 2014

Ruud Gullit

Ruud Gullit lahir di Amsterdam, Belanda, 1 September 1962 adalah seorang pemain sepak bola Belanda. Ia bersama dengan Marco van Basten dan Frank Rijkaard merupakan bagian dari timnas sepak bola Belanda yang memenangkan Piala Eropa pada tahun 1988.

Ruud Gullit, yang sebenarnya bernama Ruud Dil, lahir di Amsterdam sebagai anak di luar nikah dari seorang Suriname bernama George Gullit dan wanita asli Amsterdam bernama Ria Dil. George Gullit berhijrah dari Suriname pada tahun 1958 dengan istri dan ketiga anaknya. Ria Dil adalah wanita simpanannya. 

Mudah dicirikan karena memiliki gaya main yang begitu keras, berbadan besar, dengan tendangan yang sangat akurat, serta ciri khasnya, rambut gimbal yang unik. 

Sekarang menjabat sebagai pelatih salah satu klub di amerika , Los Angeles Galaxy.


Mendapat penghargaan ballon d'or 1987

18 Mei 2014

Paolo Rossi

Paolo Rossi (lahir di Santa Lucia, Italia, 23 September 1956 merupakan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Italia. Dia pernah bermain untuk tim Como Calcio, Juventus, Vicenza Calcio, Perugia Calcio, AC Milan, dan Hellas Verona. 

Peraih Ballon d'or 1982, Terbaik Eropah bersama club Juventus.

Di timnas Italia, dia membawa tim itu meraih gelar juara Piala Dunia FIFA 1982.

Igor Belanov

Igor Ivanovich Belanov lahir 25 September 1960 adalah seorang pensiunan pesepak bola Soviet dan Ukraina yang bermain sebagai gelandang penyerang.

Peraih Ballon d'or tahun 1986 saat bermain di club  Dynamo Kiev

Belanov mewakili Uni Soviet di satu Piala Dunia dan satu Kejuaraan Eropa.

Pada 2011, Igor Belanov bersama dengan Oleg Blohin dan Vitaliy Starukhin dijuluki sebagai "legenda sepakbola Ukraina" pada penghargaan Kemenangan Sepak Bola.

Michel Platini

Michel Platini lahir di Jœuf, Perancis, 21 Juni 1955 adalah mantan pemain sepak bola berkebangsaan Perancis yang membawa Juventus meraih gelar juara Piala Champions pada tahun 1985 dia juga merupakan salah satu pemain legendaris Juventus dan juga merupakan pemain yang berpengaruh besar di klub tersebut dalam mengantarkan prestasi di Juventus. 

Ia tiga kali meraih gelar Pemain Terbaik Eropa (1983, 1984, 1985). 


Saat ini ia adalah wakil presiden Federasi Sepak bola Perancis serta merupakan Presiden Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA).

30 April 2014

Karl Heinz Rummenigge

Karl Heinz Rummenigge (lahir di Lippstadt, Jerman Barat, 25 September 1955) merupakan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Jerman yang kini menjabat sebagai chairman klub Bayern Muenchen. Dia pernah bermain untuk klub Bayern Muenchen, Internazionale, dan Servette FC.
Di timnas Jerman, dia bermain 95 kali dan mencetak 43 gol.

Ballon d'or tahun 1980 dan 1981

Kevin Keegan

Joseph Kevin Keegan (lahir di Armthorpe, Doncaster, Inggris, 14 Februari 1951) merupakan mantan pemain sepak bola dan pelatih berkebangsaan Inggris. Dia pernah membela klub utamanya seperti Scunthorpe United, Liverpool, Hamburger SV, Southampton, Newcastle United, dan Tigers Kuala Lumpur.

Di timnas Inggris, dia bermain 63 kali dan mencetak 21 gol.

Ballon d'or (Terbaik Eropah) Tahun 1978, 1979 ,bermain di club Hamburg SV


Allan Simonsen

Allan Rodenkam Simonsen (born 15 December 1952) is a former Danish footballer and manager. He most prominently played for German Bundesliga club Borussia Mönchengladbach, winning the 1975 and 1979 UEFA Cups, as well as for Barcelona from Spain, winning the 1982 Cup Winners' Cup. Simonsen is the only footballer to have scored in the European Cup, UEFA Cup, and Cup Winners' Cup finals. Simonsen was named 1977 European Footballer of the Year with Mönchengladbach.
For the Denmark national football team, Simonsen was capped 55 times, scoring 20 goals. He represented Denmark at the 1972 Summer Olympics, 1984 European Championship and 1986 World Cup tournaments. He was voted into the Danish Football Hall of Fame in November 2008.

Club career
Born in Vejle, Simonsen started playing football with Vejle FC, before he joined the youth team of local top-flight club Vejle BK (VB) in 1963. He made his senior debut for VB on 24 March 1971 in a 3–1 home win against Karlskoga FF.He won the 1971 and 1972 Danish championship with the club, as well as the 1972 Danish Cup to complete The Double. Following an impressive three goals in six matches at the 1972 Summer Olympics, Simonsen moved to Germany to play professionally for defending German Bundesliga champions Borussia Mönchengladbach.

Borussia Mönchengladbach

In his first two seasons with Borussia Mönchengladbach, Simonsen had a hard time, as he only played a combined 17 games and scored two goals. However, he was part of the team which won the 1972–73 German Cup trophy. He broke into the starting line-up for the 1974–75 season. He played all 34 games of the season, and scored 18 goals as Mönchengladbach won the Bundesliga championship. Simonsen also scored 10 goals in 12 games in the international 1974–75 UEFA Cup competition, including two goals in the 5–1 final victory against FC Twente. In the following season, Simonsen scored 16 goals as Mönchengladbach won the 1975–76 season. He scored four goals in six games of the international 1975–76 European Cup competition, before Mönchengladbach were eliminated in the quarter-finals by Spanish team Real Madrid on the away goals rule.
1977 was the greatest year in Simonsen's career. He scored 12 goals to help Mönchengladbach win its third Bundesliga title in a row in the 1975–76 season. In the 1976–77 European Cup, Simonsen helped Mönchengladbach to the 1977 European Cup Final against English team Liverpool.In the final, Simonsen scored a memorable powerful long range goal to level the game at 1–1, but Mönchengladbach eventually lost 3–1. He was subsequently named the 1977 European Footballer of the Year, as the first Danish player in history. The race for the award was tight, and Simonsen squeezed past English midfielder Kevin Keegan by three points and French midfielder Michel Platini by four points to win the prestigious prize. The win was notable, in that Simonsen's native Denmark was not among the top footballing nations in the 1970s, leaving him little room to impress at the international tournaments.
In the following two Bundesliga seasons, Simonsen continued his prolific goalscoring, as Mönchengladbach finished 2nd and 8th respectively. He won another international trophy with Mönchengladbach in 1979, when he scored eight goals in eight games to guide the club to the final games of the 1978–79 UEFA Cup. He scored the deciding goal in the 2–1 1979 UEFA Cup Final win against Red Star Belgrade.Simonsen had been approached by Spanish club FC Barcelona in 1978, but Mönchengladbach refused to let him go. Instead, Simonsen waited for his contract to expire and moved to FC Barcelona in 1979, rejecting offers from Hamburger SV, Juventus, and several Arabian clubs.

Barcelona

Simonsen spent three successful seasons with Barcelona. In his first Barcelona season, Simonsen was the top goal scorer of the team with 10 goals in 32 games,as Barcelona finished in fourth place in the 1979–80 La Liga season. The following season saw several new players at Barcelona, and the club won the 1981 Copa del Rey. Simonsen's 10 goals saw him as third top goalscorer behind new players Quini (20) and Bernd Schuster (11),as Barcelona finished in fifth place in the 1980–81 La Liga. Simonsen was second goal scorer behind Quini,as the club finished second in the 1981–82 La Liga. He also helped Barcelona reach the final of the continental 1981–82 European Cup Winners' Cup competition. In the 2–1 final victory against Standard Liège,Simonsen scored the deciding goal on a header to help Barcelona lift the trophy.

Charlton Athletic

When Barcelona signed Argentinian forward Diego Maradona in 1982, Spanish league restrictions meant Simonsen was to compete with Maradona and Bernd Schuster for only two places allowed for foreign players in each starting line-up. Simonsen saw it as a personal insult, and asked Barcelona for his contract to be annulled.He made a shock move to English Second Division side Charlton Athletic for £300,000 in October 1982.He rejected offers from Real Madrid and Tottenham Hotspur, in order to play for a club with less stress and attention.Despite scoring nine times in 16 appearances, the club had trouble funding his transfer and wages after three months, and he was put up for sale. Simonsen then chose to return to his childhood club VB in 1983.

Vejle BK

He missed the last half of the 1984 season for VB because of an injury he sustained at the 1984 European Championship, but the club managed to win the 1984 Danish championship without him. He returned as a profile of the top-flight Danish 1st Division, but never reached his former form.Simonsen retired from football in 1989 at age 37, and played his last game for VB in November 1989. He played a total 282 games and scored 104 goals, including 208 games and 89 goals in the league, for Vejle Boldklub.

International career

He debuted for the Danish national team under manager Rudi Strittich in the July 1972 friendly match against Iceland. He scored two goals as Denmark won 5–2, and Simonsen was included in the Danish squad for the 1972 Summer Olympics. At the Olympics, he scored three goals in the first three matches to help Denmark advance beyond the first group stage. In the second group stage, Simonsen ran out of steam and he was substituted at half time in two of the last three games as Denmark were eliminated.
He played a crucial part for the Danish national team under manager Sepp Piontek, in Denmark's qualifying campaign for the 1984 European Championship. Denmark led their qualifying group with a single point over second placed England before the two teams met at England's home ground Wembley Stadium in September 1983. Simonsen scored one of the most important Danish goals ever, as he converted a penalty kick against English goalkeeper Peter Shilton.The 1–0 win eventually secured the Danish national team qualification for their first international tournament since the 1972 Olympic Games, and the first European Championship participation since the 1964 tournament. It effectively ended England's hopes of qualification for the tournament.He subsequently finished third in the vote for the 1983 European Footballer of the Year award.
The 1984 European Championship main tournament was a short experience for Simonsen, as he broke his leg in a challenge by Yvon Le Roux in Denmark's first match against France.Even without Simonsen, Denmark reached the semi-finals. He was once more a part of the Danish national team at the 1986 World Cup, Denmark's first World Cup participation. He only played a single match at the tournament, coming on as a substitute against West Germany, as younger players had surpassed him. He played a farewell match against Germany in September 1986 before ending his national team career.
Simonsen played a total 55 games for the Danish national team and scored 20 goals, according to the Danish Football Association.However, some sources chose to include Simonsen's appearance in a February 1981 charity match, to tally his national team career as 21 goals in 56 games. The match was Italy vs. Europe for the benefit of the Irpinia earthquake victims. Simonsen started the game, scored a goal, and was substituted at half time as Europe won 3–0.

Managing career

Following his retirement, Simonsen went on to coach his former club Vejle Boldklub from 1991 to 1994. During his time at the club, VB were relegated from the new top-flight Danish Superliga to the now second-tier Danish 1st Division. He later coached the national teams of the Faroe Islands from 1994 to 2001 and Luxembourg from 2001 to 2004.
In 2011 he became General Manager of the Danish 1st Division team FC Fredericia. When Fredericia sacked manager Thomas Thomasberg on 8 April 2013, Simonsen and Steen Thychosen took charge of the team as caretaker managers.Following the end of the 2012–13 season Simonsen left both his positions at Fredericia.


29 April 2014

Franz Beckenbauer

Franz Anton Beckenbauer (lahir di München, Jerman, 11 September 1945) adalah seorang pemain sepak bola Jerman, pelatih tim nasional Jerman, serta tokoh organisasi sepak bola Eropa. Ia dijuluki Der Kaiser ("Sang Kaisar") karena gayanya yang anggun, kemampuannya memimpin, dan dominasinya di atas lapangan sepak bola, sebagai seorang libero.

Beckenbauer dikenal "bertangan dingin". Ia menjadi anggota tim nasional Jerman Barat sejak akhir dekade 1960-an hingga akhir 1970-an. Sewaktu Jerman Barat menjuarai Piala Dunia FIFA 1974 ia menjadi kapten tim. Beckenbauer kemudian menjadi pelatih nasional beberapa tahun setelah menggantungkan sepatunya. Kembali ia berhasil membawa kesebelasan Jerman menjuarai Piala Dunia FIFA 1990 di Italia, kali ini sebagai pelatih. Harapan warga Jerman agar ia kembali membawa negaranya sebagai juara dunia pada Piala Dunia FIFA 2006 sebagai ketua panitia tidak menjadi kenyataan; namun banyak pihak mengakui bahwa Piala Dunia tersebut adalah yang terbaik penyelenggaraannya sepanjang sejarah.

Masa Kecil

Beckenbauer lahir pada masa pasca Perang Dunia II, anak ke dua dari Franz Beckenbauer, Sr.dan Antonie. Beckenbauer besar di distrik Giesing dan mulai berlatih sepak bola di klub lokal, SC München 06 pada usia 13 tahun. Berposisi sebagai penyerang, ia mengidolakan penyerang tim nasional Jerman Barat, Fritz Walter dan mendukung klub 1860 München. Ketika ia memilih bergabung dengan Bayern München, rival abadi 1860 München adalah karena pada turnamen junior, klub Beckenbauer bertemu dengan 1860 München di mana permainan keras dari klub idolanya itu membuatnya memilih bergabung dengan rival mereka, Bayern München.

Karier klub :
 
Bayern München
Beckenbauer melakukan debutnya bersama Bayern pada ajang Regionalliga Süd (Liga Regional Selatan) sebagai sayap kiri mealwan Stuttgarter Kickers pada 6 Juni 1964. Pada musim pertamanya Bayern München Beckenbauer tampil sebanyak 31 kali dan mencetak 16 gol, Bayern meraih promosi ke divisi yang lebih bergensi, Bundesliga. Penampilan impresif Beckenbauer muda berimbas pada performa Bayern di liga, pada musim 1966/67 Bayern memenangkan trofi Piala Jerman dan meraih Piala Winners.

Beckenbauer diangkat menjadi kapten tim pada musim 1968/69 dan mengantarkan Bayern meraih gelar Juara Liga untuk pertama kalinya pada tahun yang sama. Mengawali karier dengan tampil di syap kiri, Beckenbauer berevolusi menjadi seorang sweeper (libero), sebuah posisi baru dalam formasi sepak bola. Ditambah dengan keahliannya menyerang maka Beckenbauer segera menjadi fenomena baru dalam dunia sepak bola. Menariknya, sejak tahun 1968 Beckenbauer sudah dijuluki Der Kaiser-Sang Kaisar oleh teman-teman setim nya. Hal ini bermula dari dari sesi foto bersama mantan kaisar Austria, Franz Joseph I yang diberi judul Fußball-Kaiser atau Kaisar-Sepakbola. Sejak saat itu teman-temannya memanggil Beckenbauer Der Kaiser. Bayern kemudian memenangkan trofi juara liga 3 tahun berturut-turut dari 1972-1974. Performa Bayern dalam ajang Liga dikuti kesuksesan dalam kancah Eropa. Trofi Piala Champion untuk pertama kalinya diraih oleh Bayern pada musim 1973/74. Bayern yang berintikan 6 pemain Jerman Barat ; Sepp Maier, Paul Breitner, Georg Schwarzenbeck, Uli Hoeness and Gerd Müller dan kapten tim Beckenbauer sukses mengalahkan Atletico Madrid 4-0 dengan pertandingan replay (setelah hasil seri 1-1).
Pada musim berikutnya, Bayern kembali mempertahankan gelar juara Piala Champion dengan mengandaskan Leeds United di final yang berakhir dengan kerusuhan. Trofi Piala Champion akhirnya sukses diboyong 3 kali berturut-turut, kali ini Beckenbauer memimpin timnya berhadapan dengan AS Saint-Étiennedan menyelasaikan laga dengan keunggulan 1-0. Bayern menjadi klub ketiga di eropa yang mampu meraih prestasi itu setelah Real Madrid dan Ajax Amsterdam. Pada tahun yang sama Beckenbauer yang baru saja dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa untuk kedua kalinya (pertama pada 1972) meraih gelar juara Piala Interkontinental yang pertama dengan mengalahkan Cruzeiro di (2-0, 0-0) dalam final dengan format home & away. Penampilan Beckenbauer bersama Bayern München total menghasilkan 14 Trofi juara. Der Kaiser mencetak 10 gol dalam 427 penampilan bersama Bayern.

New York Cosmos

Pada usia 32 tahun, Der Kaiser menerima pinangan dari Amerika untuk bermain bersama New York Cosmos. Ia bergabung dengan Cosmos selama 4 tahun dan meraih 3 juara Soccer Bowl (Juara Liga Amerika) pada tahun 1977, 1978 dan 1980. Di Cosmos Der Kaiser tampil sebanyak 80 pertandingan dengan mencetak 17 gol.

Hamburg SV

Beckenbauer dalam usianya yang menjelang pensiun (36 tahun) memutuskan kembali bermain di Jerman dan memilih bergabung dengan Hamburger SV pada musim 1980/81 dan bermain selama 2 musim. Musim terakhirnya, ia mengantarkan klub barunya itu juara Bundesliga pada musim 1981/82. Setelah bergabung kembali dengan New York Cosmos (27 main/2 gol), Der Kaiser memutuskan untuk pensiun sebagai pemain. Sepanjang kariernya Beckenbauer telah tampil bermain sebanyak 587 pertandingan dan mencetak 81 gol.

Karier Internasional

Piala Dunia 1966

Beckenbauer tampil pertama kalinya dalam ajang Piala Dunia dan bermain dalam seluruh pertandingan. Pada perandingan pertamanya melawan Swiss, Der Kaiser mencetak 2 gol untuk kemenangan Jerman Barat 5-0. Jerman Barat menjadi juara grup dan menghadapi Uruguay dalam babak perempat final. Der Kaiser mencetak gol kedua pada menit ke-70 dan membawa Die Mannschaft menang 4-0 atas Uruguay.Uni Soviet menghadang di semifinal tetapi lewat gol Helmut Haller dan Beckenbauer, Jerman Barat tampil di final menghadapi tuan rumah Inggris yang notabene adalah musuh bebuyutan Die Mannschaft . Kali ini Inggris menyudahi perjalanan Jerman Barat dengan pertandingan yang penuh kontroversi, 4-2.

Piala Dunia 1970

Jerman Barat memenangkan 3 pertandinga awal mereka dan berjumpa dengan lawan mereka di final Piala Dunia 1966, Inggris. Sesaat duka di final 4 tahun sepertinya akan hadir kembali, ketika Inggris unggul 2-0 sampai pada menit ke 69 dimana Der Kaiser mencetak gol untuk pertama untuk Die Mannschaft disusul gol penyama kedudukan sehingga pertandingan dilanjutkan ke perpanjangan waktu. Jerman Barat akhirnya mengalahkan Inggris dengan skor 3-2. Jerman Barat melaju ke semifinal menghadapi Italia. Sampai menit-menit akhir Azzuri unggul 1-0, sampai kemudian Karl-Heinz Schnellinger menyamakan skor menjadi 1-1 dan memaksakan perpanjangan waktu. Selama perpanjangan waktu kedua tim saling mencetak gol susul menyusul dengan skor akhir 4-3 untuk kemenangan Italia. Beckenbauer sendiri mengalami cedera bahu, namun karena jatah pergantian pemain sudah terpakai semua, Der Kaiser tetap bermain menghadapi Italia. 5 gol dalam babak perpanjangan waktu membuat pertandingan ini dijuluki "Pertandingn Abad Ini.

Piala Eropa 1972

Sejak 1971 Beckenbauer ditunjuk menjadi kapten Jerman Barat dan berhasil meraih gelar juara Piala Eropa dengan mengalahkan Uni Soviet 3-0 di Final. Ini adalah gelar internasional pertama untuk Der Kaiser dan ia meraihnya sebagai kapten tim.

Piala Dunia 1974

Status sebagai Juara Eropa 1972 dan sebagai tuan rumah turnamen membuat Die Mannschaft diunggulkan untuk meraih gelar Juara Dunia nya yang kedua setelah Piala Dunia 1954. Pada pertandingan grup, Jerman Barat bearda satu grup denga Jerman Timur. Pertandingan ini secara mengejutkan dimenagkan oleh Jerman Timur 1-0. Kedua negara ini akhirnya maju ke babak grup berikutnya. Jerman Barat menjuarai babak grup berikutnya dan berhak menghadapi juara grup A, Belanda dengan Total Football nya di final. Pada pertandingan final Beckenbauer menjaga ketat Johan Cruijjf sehingga Jerman Barat sukses memenangi turnamen dengan skor tipis 2-1. Beckenbauer menjadi kapten pertama yang mengangkat Trofi Piala Dunia yang baru, karena trofi sebelumnya menjadi milik Brasil. Jerman Barat juga menjadi tim pertama yang menjadi mengkoleksi gelar Juara Eropa dan Juara Dunia secara bersamaan; Prestasi ini kemudian diikuti oleh Prancis (2000) dan Spanyol (2010).

Piala Eropa 1976

Sebagai juara bertahan dan Juara Dunia, tim nasional sepakbola Jerman Barat|Jerman Barat]] kembali diunggulkan untuk mempertahankan gelar juara Eropanya. Sayang pada Final, Beckenbauer cs. gagal meraih juara, kalah dari Cekoslowakia lewat adu pinalti 5-3 setelah kedua tim bermain imbang 2-2 dalam sampai babak perpanjangan waktu. Ini adalah turnamen resmi terakhir dari Beckenbauer. Der Kaiser mengoleksi 14 gol dalam 103 pertandingan bersama Jerman Barat.

Karier Manajerial

Kembali ke Jerman pada 1984, Beckenbauer ditunjuk menjadi pelatih Jerman Barat menggantikan Jupp Derwall. Ia kemudian mengantarkan tim Jerman Barat sampai ke final, sebelum dikalahkan oleh Argentina dengan bintangnya Diego Maradona 3-2. Sesaat sebelum Unifikasi Jerman, Jerman Barat kembali tampil di final Piala Dunia 1990 dan kembali bertemu Argentina di final. Kali ini Jerman Barat berhasil mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol pinalti Andreas Brehme. Beckenbauer menjadi orang pertama yang pernah meraih Juara Piala Dunia dengan menjadi kapten tim nasional dan pelatih nasional. Pada tahun itu juga ia mengundurkan diri dari jabatan pelatih Jerman dan memilih menjadi pelatih pada klub Olympique de Marseille. Ia hanya bertahan selama semusim dan membawa Marseille juara Liga Prancis. Pada 1993 sampai 1994 dan 1996 Der Kaiser menjadi pelatih Bayern München. Bayern meraih gelar juara Bundesliga pada 1994 dan Juara Piala UEFA pada 1996. Ia kemudian menjadi presiden klub sejak 1994 dan pada 2002 Bayern München menunjuknya sebagai Presiden Kehormatan sampai sekarang. Beckenbauer juga menjadi Ketua Panitia Piala Dunia 2006 di Jerman.
  
Penghargaan

Klub

Bayern München

  • Bundesliga –
    • Juara: 1968–69, 1971–72, 1972–73, 1973–74
  • DFB Cup –
    • Juara: 1965–66, 1967–68, 1968–69, 1970–71
  • Piala Champion –
    • Juara: 1973–74, 1974–75, 1975–76
  • Piala Winners –
    • Juara : 1966–67
  • Piala Interkontinental –
    • Juarar: 1976
  • Regionalliga Süd –
    • Winner: 1965, 31 matches 16 goals

Hamburg

  • Bundesliga –
    • Juara : 1981–82

New York Cosmos

  • NASL Championship –
    • Juara : 1976–77, 1977–78, 1979–80
  • Trans-Atlantic Cup Championships
    • Juara : 1980, 1983

Internasional

  • FIFA World Cup –
    • Juara: 1974
    • Runner-up: 1966

  • UEFA European Football Championship –
    • Juara : 1972
    • Runner-up: 1976

Managerial

  • FIFA World Cup –
    • Juara : 1990
    • Runner-up: 1986
  • Division 1 –
    • Juara : 1989–90
  • Bundesliga –
    • Juara : 1993–94
  • Piala UEFA –
    • Juara : 1995–96

Individu

  • Ballon d'Or
    • Juara: 1972, 1976
    • Runner-up: 1974, 1975
  • FIFA World Cup Young Player of the Tournament:
    • 1966
  • FIFA World Cup Golden Ball-
    • Runner-up: 1974
  • FIFA World Cup Team of the Tournament:
    • 1966, 1970, 1974
  • European Football Championships Team of the Tournament:
    • 1972, 1976
  • Pemain Terbaik Jerman:
    • 1966, 1968, 1974, 1976
  • World Soccer Magazine of the Year
    • Winner: 1972, 1976
    • Runner-up: 1974, 1975

Oleg Blokhin

Oleh Volodymyrovych "Oleg" Blokhin (lahir di Kiev, 5 November 1952) adalah mantan seorang pemain sepak bola berkewarganegaraan Ukraina yang saat ini menjadi manajer tim nasional sepak bola Ukraina

Peraih Ballon d'Or (Untuk memilih pemain terbaik Eropa) tahun 1975

21 April 2014

Johan Cruyff

Hendrik Johannes Cruijff (lahir di Amsterdam, Belanda, 25 April 1947) adalah mantan pemain dan pelatih sepak bola Belanda. Selain bermain untuk Ajax dan Barcelona, ia juga menjadi bagian dari tim nasional sepak bola Belanda yang menjadi juara kedua Piala Dunia 1974.

Karir Klub
Ajax Amsterdam
Cruyff bergabung dengan Ajax Amsterdam ketika berumur 10 tahun. Ia memainkan debut pertamanya untuk Ajax pada 15 November 1964 melawan Groningen. Debutnya dihiasi kekalahan 3-1 dan Cruyff mencetak satu-satunya gol untuk Ajax. Musim itu Ajax menyelesaikan musim di peringkat 13. Semusim kemudian Cruyff mulai menunjukkan bakatnya bersama Ajax dan membawa klub tersebut meraih gelar liganya. Cruyff mencetak 25 gol dalam 23 penampilan bersama Ajax musim itu. Pada musim berikutnya Ajax kembali mempertahankan gelar juara liganya dan Cruyff mencetak 33 gol sekaligus meraih gelar top scorer. Musim ketiganya bersama Ajax Cruyff kembali meraih trofi Liga dan meraih gelar sebagai pemain terbaik Belanda. Pada musim yang sama Ajax mengejutkan dunia dengan mencapai final Liga Champion untuk yang pertama kalinya dalam sejarah klub. Namun dalam final Ajax dikalahkan AC Milan 4-1. Ajax kembali meraih trofi Liga pada musim 1969/70, pada musim inilah Cruyff mengganti seragam no. 9 dengan no. 14. Hal ini termasuk tidak lazim karena saat itu para pemain sepakbola memakai kostum dengan no. 1-11. Di musim berikutnya Cruyff lewat peragaan sepakbola atraktif yang kemudian dinamai oleh media Total Football, meraih trofi Liga Champion untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, mengalahkan Panathinaikos 2-0 di final . Gaya menyerang Ajax lewat pergerakan pemain tanpa henti dan dengan Cruyff sebagai pusat permainan kembali mengantarkan Ajax meraih gelar keduanya di Liga Champion mengalahkan Inter Milan 2-0 di final. Pada kompetisi domestik Ajax kembali meraih liga Belanda. Pada musim gugur Ajax meraih trofi Piala Interkontinental dengan mengalahkan wakil Amerika Latin, Independiente 1-1 dan 3-0. Cruyff bersama Ajax juga meraih Trofi Piala Super Eropa, mengalahkan Glasgow Rangers 3-1 dan 3-2. Musim 1972/73 Ajax kembali meraih trofi Liga Champion unutk yang ketiga kalinya secara berturut turut dengan mengalahkan Juventus 1-0 di final. Pada musim panas 1973 Cruyff ditransfer oleh Barcelona senilai $2 juta. Total Cruyff telah mencetak 251 gol untuk Ajax dalam semua ajang kompetisi. Ia juga meraih gelar sebagai Pemain Terbaik Dunia pada musim 1970/71 dan 1972/73.

FC Barcelona
Kehadiran Cruyff di Barça langsung disambut meriah oleh para fans karena Cruyff secara terang-terangan lebih memilih FC Barcelona dibanding dengan rival abadi mereka Real Madrid. Trofi pertama Cruyff untuk FC Barcelona diraih pada musim pertamanya berseragam Barça. Sayangnya itu adalah satu-satunya juara liga trofi yang diraih Barça bersama Cruyff, selain itu ia juga meraih trofi Piala Spanyol. Total 48 gol dicetak oleh Cruyff dalam 143 penampilan.

Los Angeles Aztec, Washington Diplomats & Levante
Karier Cruyff yang mulai menurun membuatnya menerima tawaran dari Amerika Serikat untuk bergabung dengan LA Aztecs. Setahun kemudian ia pindah ke klub Washington Diplomats. Seusai petualangannya di Amerika , Cruyff kembali ke Ajax sedianya untuk mengisi posisi penasihat teknik untuk pelatih Leo Beenhaker. Namun keinginannya untuk bermain membawanya kembali ke liga Spanyol bersama Levante yang tampil di divisi 2 Spanyol. Cruyff tampil hanya dalam 10 pertandingan dan mencetak 2 gol, ia menderita cedera parah dan harus absen selama semusim.

Ajax Amsterdam & Feyenoord Rotterdam
Cederanya Cruyff membuat kontraknya tidak diperpanjang. Pada Desember 1981, Cruyff menekan kontrak dengan Ajax sebagai pemain. Ia kemudian tampil kembali dengan seragam Ajax pada tanggal 6 Desember 1981 melawan Haarlem. Ajax menang 4-1 dengan Cruyff mencetak gol pertama. Pada musim 1981/82 dan 1982/83 Ajax bersama Cruyff memenangkan trofi Liga Belanda. Pada 1983 Ajax membuat keputusan untuk tidak memperpanjang kontrak Cruyff. Hal ini membuat Cruyff marah maka ia pun pindah ke rival Ajax, Feyenoord Rotterdam dan membawa klub tersebut juara liga dan juara piala KNVB pada musim 1983/84. Cruyff kemudian pensiun sebagai pemain.

Internasional
Piala Dunia 1974
    


Karier Cruyff di tim nasional Belanda dimulai pada 1966. Pada pertandingan keduanya melawan Cekoslowakia, Cruyff adalah pemain Belanda pertama yang menerima kartu merah. Ia pun menerima sangsi selama setahun tidak boleh tampil dalam pertandingan Oranje. Suatu saat Cruyff pernah menolak unutk memakai seragam Oranje dan menutupi tiga garis dengan perban hitam, dikarenakan disponsori oleh Adidas,Cruyff sendiri dikontrak oleh Puma. Kehebatan Cruyff terlihat dalam Piala Dunia 1974 dimana lewat penguasaan taktik Total Football, Cruyff membawa Belanda tampil unutk pertama kalinya dalam final Piala Dunia melawan Jerman Barat. Sayang perjalanan Oranje terhenti di final, kalah 2-1 oleh Jerman Barat. Cruyff sendiri mendapatkan kartu kuning karena membantah wasit. Total Cruyff mencetak 33 gol dalam 48 penampilannya bersama Oranje.

Karier Manajerial
Ajax Amsterdam
Pada musim 1985 Cruyff diangkat menjadi pelatih Ajax. Bakat melatih Cruyff sudah terlihat sejak ia masih berkarier sebagai pemain. Hal ini ia terapkan di Ajax dimana ia meneruskan kesuksesan pendahulunya, Rinus Michels. Cruyff menerapkan sistem 3-4-3, sebuah modifikasi dari sistem tradisional Ajax, 4-3-3. Cruyff mempunyai pemain-pemain berbakat unutk menjalankan sistem ini, di antaranya adalah Marco van Basten dan Dennis Bergkamp. Ajax dibawanya menjadi juara liga pada musim pertamanya sebagai pelatih. Pada musim berikutnya Ajax kembali menjadi juara Liga, kali ini ditambah raihan trofi Piala Winners.

FC Barcelona
Pada 1988, Cruyff kembali meninggalkan Ajax untuk menjadi pelatih FC Barcelona. Di klub inilah Cruyff mencapai kesuksesannya sebagai pelatih. Total ia membawa Barça meraih 4 trofi Liga Spanyol, 1 trofi Liga Champion, 1 trofi Piala Winners, 1 trofi Piala Spanyol dan 1 trofi Piala Super Eropa.

Blog Archive

My Ping in TotalPing.com
SEO Reports for toplayer-soccer.blogspot.com